HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Ngejalang Fest 2025: Saat Api Budaya Pesisir Kembali Menyala di Bumi Lebu

December 4, 2025 08:51
IMG-20251204-WA0014

Christian Heru Cahyo Saputro | Jurnalis

Ketika Pagi Mengingatkan Kita pada Leluhur

HATIPENA.COM – Di Lamban Gedung Sai Batin,
pagi itu turun lebih lembut dari biasanya.
Asap dapur kayu bergerak perlahan,
seolah mencari nama-nama lama
yang pernah tinggal di antara balok-balok rumah kayu,
yang pernah mengajarkan angin
cara membawa pesan dari laut ke bukit,
dan dari bukit kembali ke hati manusia.

Tenumbang pagi itu bukan sekadar pekon

ia adalah halaman pertama dari kitab panjang
yang belum selesai ditulis.
Ngejalang Fest membuka dirinya
seperti pintu tua yang akhirnya dibuka kembali,
membiarkan ingatan menjejak tanah,
membiarkan masyarakat bertanya pada dirinya sendiri:

Siapa kita, bila tidak kembali pada akar?
Ke mana kita hendak melangkah, bila tanpa cahaya budaya?

Ketika Sebuah Desa Menjadi Cahaya

Bupati berdiri di depan masyarakat
dengan suara yang mengalir tenang:
“Budaya adalah jangkar,” katanya—
dan kata-katanya terasa seperti maklumat
yang keluar dari perut bumi pesisir.

Desa Bumi Lebu—
satu dari sepuluh desa budaya nasional,
satu-satunya dari Sumatra bagian selatan—
tiba-tiba bersinar seperti lentera
yang baru diisi minyak segar.

Budaya, ujarnya, bukan museum:
bukan ruang yang membatu, bukan benda yang digembok.
Ia adalah rumah yang terus tumbuh,
sebuah nafas yang harus terus diberikan udara.

Ngumbai Atakh: Doa yang Mencari Jalan Pulang

Asap dedaunan terbakar naik ke langit rendah Tenumbang,
menganyam doa yang terasa lebih tua dari bahasa.
Pemuka adat berjalan memutar,
anak-anak memercikkan air
ke empat penjuru mata angin—

seolah mengatakan pada dunia:
Kami membersihkan bukan hanya tanah,
tetapi ruang dalam diri kami sendiri.

Ngumbai Atakh tidak sekadar ritual,
ia adalah cara nenek moyang
mengajari manusia untuk berhenti sejenak,
lalu kembali menjadi pewaris
yang pantas menerima tradisi.

Museum Ruang Tamu: Rumah adalah Adat yang Pertama

Di sudut pekon, Museum Ruang Tamu berdiri pelan,
seperti ruang kecil yang menahan ratusan cerita.
Foto-foto tua, perabot kayu, alat dapur,
semua menjadi pengingat bahwa adat
lahir dari keseharian yang paling sederhana.

Bahwa kebudayaan tak jatuh dari langit—
ia lahir dari ruang tamu,
dari meja kecil tempat ibu menyajikan kopi,
dari halaman tempat ayah menatah kayu,
dari obrolan anak-anak
yang tak tahu bahwa kata-kata mereka
kelak menjadi identitas.

Pada Himpun Adat, para tetua berkata:
“Adat adalah pagar—
melindungi arah,
bukan menutup jalan.”

Dan kata-kata itu terasa seperti petunjuk arah
yang akhirnya ditemukan kembali.

Kelasa Muloh Tungga:

Malam Ketika Cerita Menemukan Sayap

Ketika matahari jatuh ke balik bukit,
malam menyala dengan lentera-lentera kecil.
Tarian pesisir bergerak seperti ombak—
pelan, lalu memecah,
seolah membawa pesan rahasia
yang hanya dipercayakan pada anak-anak tanah ini.

Dongeng dilantunkan di tengah lingkaran.
Musik tradisi berdenting seperti jantung tua
yang menolak berhenti berdetak.
Anak-anak mendengarnya dengan mata berbinar
dan malam itu, Bumi Lebu bukan sekadar desa:
ia menjadi panggung tempat masa lalu
dan masa depan berdansa dalam harmoni.

Sarasehan Budaya:

Ketika Dua Generasi Bertemu di Jalan yang Sama

Di siang berikutnya, para tetua dan anak muda duduk satu lingkaran.
Mereka bicara tentang bahasa Lampung,
tentang konten digital,
tentang tradisi yang harus berjalan
menuju masa depan tanpa takut kehilangan asal.

“Budaya akan hidup bila dibawa oleh anak muda,”
kata seorang pemangku adat.

Dan ruangan itu seperti perahu
yang membawa dua generasi
menuju satu muara bernama harapan.

Ketika Budaya Memberi Kehidupan

Di luar balai adat, bazar kuliner semerbak;
kerajinan tangan kembali menemukan pembelinya;
UMKM kecil tumbuh seperti tunas setelah hujan.

Kepala Balai Pelestarian Wilayah 7 berkata:
“Pelestarian budaya adalah pintu ekonomi.”
Dan kata itu membuktikan dirinya sendiri
di setiap tawa pedagang,
di setiap kerajinan yang berpindah tangan,
di setiap piring yang kembali kosong
karena makanan habis dibeli.

Di Tenumbang, budaya bukan hanya dihormati—
ia memberi makan,
menggerakkan pasar,
menghidupkan keluarga.

Suara dari Rumah Adat

Sai Batin Merah Gunawan berkata:
“Masyarakat kami menjaga adat.
Hari ini, dunia melihatnya.”

Dan di balik kata-katanya,
ada denyut kecil—
denyut yang selama ini menunggu
untuk diakui kembali.

Bumi Lebu:

Rumah yang Menjaga Ingatan

Desa Wisata Bumi Lebu bukan sekadar destinasi,
ia adalah pelajaran tentang keselarasan:
antara rumah panggung kayu dan kebun yang teduh,
antara sungai jernih dan keramahan masyarakat,
antara adat sai batin
dan cara hidup yang terus berubah.

Siapa pun yang datang—
tidak hanya melihat,
tetapi ikut mendengar, duduk, dan memahami.

Tradisi yang Terus Menyala

Ngejalang Fest, pada akhirnya,
bukan hanya festival.
Ia adalah pernyataan.
Tentang identitas yang dijaga.
Tentang keberanian untuk berubah
tanpa kehilangan akar.
Tentang budaya pesisir
yang tidak padam meski angin zaman berubah arah.

Di Bumi Lebu,
tradisi tidak sekadar dipertahankan—
ia hidup,
ia bernapas,
ia menyala.

Dan selama ada yang menjaganya,
api itu tidak akan pernah padam. (*)

Semarang, 3 November 2025

*) Pemerhati Budaya Tradisi, Penulis Buku
Piil Pesenggiri, Etos dan Semangat Kelampungan

Berita Terkait