Aldrin Arief
CAFEReiner Emyot Ointoe
HATIPENA.COM – Dengarlah, wahai jiwa yang mencari jalan pulang,
pada suatu malam yang lengang
turunlah ayat itu
seperti lampu kecil
yang Allah gantungkan
di sudut hati manusia:
“Barang siapa diselamatkan dari kekikiran dirinya,
maka dialah yang beruntung.”
— At-Taghabun: 15–16
Ayat itu tidak mengetuk telinga,
ia mengetuk ruh.
Ia tidak meminta jawaban dari lidah,
tetapi dari batin yang paling sulit jujur.
Sebab kikir bukanlah tangan yang enggan membuka,
melainkan jiwa yang enggan dibuka oleh cahaya.
⸻
Ada hamba yang menggenggam dunia
seperti mengenggam pasir basah—
semakin erat ia pegang,
semakin hilang dari jarinya.
Di wajahnya tampak kaya,
namun di dadanya tinggal malam yang tidak selesai.
Ada pula hamba yang tampak miskin,
namun kekikirannya
lebih keras dari batu yang dipanaskan matahari.
Ia tidak menahan uang—
ia menahan rahmat
yang ingin keluar dari dalam dirinya.
Dan ada hamba yang Allah jaga,
sehingga hatinya menjadi taman.
Setiap daun yang gugur darinya
menjadi sedekah.
Setiap kata yang ia lepaskan
menjadi penawar.
Setiap luka yang ia maafkan
menjadi pintu yang Allah buka.
Ia berjalan di bumi
seperti angin Rahman,
lembut, tidak terlihat,
namun semua bunga membungkuk kepadanya.
Ia memberi sebelum diminta,
melapangkan sebelum ditanya,
mengikhlaskan sebelum dihitung.
Karena ia tahu:
yang ia lepaskan
tidak pergi—
ia kembali sebagai cahaya
di kamar paling sunyi
dalam dadanya.
⸻
Kekikiran adalah malam yang membatu.
Kelapangan adalah fajar yang pecah.
Dan ketika seorang hamba
dibebaskan Allah dari kikirnya,
maka malaikat berkata:
“Inilah dia yang beruntung—
bukan karena apa yang ia punya,
tetapi karena apa yang ia lepaskan
demi wajah Tuhannya.”
Tidak ada kekayaan
yang lebih besar
daripada hati yang luas.
Tidak ada keberuntungan
yang lebih tinggi
daripada dada yang bercahaya.
Dan tidak ada perjalanan
yang lebih dekat kepada Allah. (*)
Manado, 24 November 2025