HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Pahlawan Nasional Soeharto

November 11, 2025 08:05
IMG_20251111_080417

Oleh : Muhammad Thobroni |Tukang Cerita dari Tengah Hutan

1/

Dalam sejarah Indonesia yang berliku, nama Soeharto berdiri di antara dua tebing. Antara masa kekacauan dan masa keteraturan. Ia muncul dari debu tragedi 1965. Bangsa ini nyaris kehilangan arah. Sejarah seperti menurunkan seorang juru tenang. Bukan juru bicara. Bukan orator. Tapi prajurit yang berbahasa dengan ketertiban.

Soeharto tidak datang dengan retorika besar. Dia datang dengan kesunyian yang bekerja. Dalam gaya yang khas. Dia memimpin dengan alon-alon waton kelakon. Pelan tapi pasti. Dari kekacauan politik, inflasi ratusan persen, dan ketakutan sosial. Dia membangun kembali struktur negara yang stabil.

Di situlah letak keistimewaannya. Soeharto bukan penceramah tentang bangsa. Dia tukang batu yang menegakkannya.

2/

Meminjam Samuel Huntington (1968), pembangunan tak mungkin berjalan tanpa stabilitas politik. Soeharto memahami itu bukan dari buku. Tapi dari pengalaman hidup sebagai prajurit. Dia menyaksikan negara nyaris runtuh. Dia membangun sistem birokrasi yang efisien. Dia menekan konflik politik. Dia memusatkan kendali agar roda ekonomi bergerak serempak.

Hasilnya konkret. Di tangannya, pertumbuhan ekonomi selama 1970–1996 rata-rata 6,5% per tahun. Inflasi terkendali. Kemiskinan menurun dari 60% pada 1970-an menjadi sekitar 11% menjelang 1996 (BPS, 1998). Angka-angka itu memang statistik. Tanda-tanda kehidupan yang membaik di kampung-kampung. Di sawah. Di pasar. Di ruang kelas sekolah Inpres yang baru berdiri.

Soeharto tak banyak bicara tentang ideologi. Dia membangun kenyataan.

3/

Soeharto mengajarkan bangsa ini disiplin. Dia menyatukan republik yang masih rapuh ke dalam satu kesadaran sederhana. Pembangunan butuh ketertiban. Masa pemerintahannya, Indonesia nyaris tak pernah mengalami perpecahan besar.

Ketertiban yang konsisten menciptakan rasa aman kolektif. Soeharto menjaga pluralisme dengan cara yang khas. Bukan dengan slogan. Dia mengawas dengan tegas. Tidak membiarkan agama menjadi sumber pertikaian. Tidak membiarkan etnis dijadikan alat politik. Semua berada di bawah satu panji bernama Pancasila.

Pancasila bukan sekadar hafalan di upacara. Pancasila adalah ritme hidup yang menyatukan. Anak-anak menyanyikan lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung” tanpa sadar bangsa ini sedang mendaki. Perlahan. Teratur. Penuh napas panjang.

4/

Soeharto adalah mandor pembangunan. Dia membangun BUMN yang kuat. Mendorong swasembada pangan 1984. Menegakkan kebijakan ekonomi yang berpihak pada stabilitas jangka panjang.

Pembangunan Lima Tahun (pelita) menjadi rencana teknokratis. Visi bertahap yang realistis. Jalan Trans-Sumatra. Jembatan Ampera. Waduk-waduk besar. Sekolah-sekolah dasar Inpres. Simbol bahwa negara ini tengah bergerak. Dari keterbelakangan menuju kemandirian.

Pinjam pandangan Gunnar Myrdal, pembangunan yang efektif harus bertumpu pada negara yang kuat. Birokrasi yang berdisiplin. Soeharto mewujudkan itu. Tanpa perintah yang tegas, tidak ada proyek yang selesai.

Tertib dan taat pada rencana adalah bentuk kecerdasan tersendiri.

5/

Soeharto adalah presiden yang tak banyak bicara. Karena itulah kata-katanya punya bobot. Kekuasaan tidak perlu berteriak untuk didengar. Tidak butuh juru bicara yang fasih. Stabilitas berbicara lebih keras daripada pidato.

Di masa Soeharto, komunikasi negara berlangsung lewat kerja. Bukan kamera. Pesan disampaikan melalui pembangunan yang tampak. Sawah yang panen. Sekolah yang berdiri. Jalan yang terbuka.

Efektivitas pesan dapat diukur dari jumlah kata. Juga kejelasan tindakan. Tndakan Soeharto jelas. Membawa negeri yang kacau menjadi teratur. Membawa rakyat yang lapar menjadi kenyang. Membawa mimpi kemerdekaan menjadi kenyataan yang terukur.

6/

Capaian besar Soeharto antara lain Inpres Desa Tertinggal dan SD Inpres. Tahun 1990-an telah membangun lebih dari 148 ribu sekolah dasar baru. Pembangunan butuh beton dan baja. Juga manusia.

Soeharto menyiapkan generasi baru terdidik. Tanpa menyebutnya revolusi mental. Tidak menulis manifesto. Dia mengubah wajah negeri lewat perencanaan yang senyap.

Soeharto membangun satu generasi. Sekaligus siap berkesinambungan. Sosok yang menempatkan nation building di atas ego politik. Nilai kesabaran seperti itu terasa langka. Karenanya sungguh berharga.

7/

Gagasan gelar Pahlawan Nasiona kepada Soeharto sangat urgen. Kita sadar dia punya cacat. Tapi bangsa ini harus berani mengakui jasanya.

Kepahlawanan berarti kesempurnaan. Punya kontribusi besar terhadap bangsa. Soeharto membangun fondasi ekonomi. Ketertiban sosial. Infrastruktur nasional yang bertahan hingga kini. Program swasembada pangan dan proyek jalan lintas adalah kelanjutan dari rancangannya.

Soeharto punya bayang-bayang kesalahan. Setiap pemimpin besar memilikinya. Sejarah ditulis dengan tinta moral. Juga dengan hasil nyata. Soeharto memberi bangsa ini ruang tumbuh yang luas.

8/

Bangsa yang matang adalah bangsa yang bisa mengingat dengan jernih. Tanpa dendam. Tanpa pengkultusan. Soeharto seharusnya dilihat sebagai simbol masa lalu. Sebagai fondasi dari perjalanan panjang menuju kematangan republik.

Sudah saatnya kita menilai Soeharto dengan sudut moral politik pra reformasi dan pascareformasi. Dia bagian dari identitas sejarah kita yang panjang. Memberinya gelar Pahlawan Nasional bukan berarti menutup mata pada kekeliruannya. Melainkan membuka ruang bagi bangsa ini untuk berdamai dengan masa lalunya sendiri.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang tanpa luka. Melainkan bangsa yang berani memuliakan mereka yang pernah menyembuhkan luka itu. Walau dengan cara yang keras. (*)

Tarakan, 9 November 2025