Oleh: Wahyu Iryana *)
Di tanah ini, embun pernah jatuh pelan,
menyentuh daun-daun pisang,
membelai pagar kayu,
dan pagi datang dengan aroma tanah basah.
Sekarang, mesin-mesin meraung
mengusir ingatan dari akar.
Rumah-rumah roboh seperti doa tak sampai,
genteng-genteng berjatuhan
seperti burung kehabisan langit.
Orang-orang berdiri, tapi tak punya tanah,
menatap debu yang menghapus alamat mereka.
Mereka mengangkat tangan,
bukan untuk melawan,
hanya untuk meraba rumah yang tak ada.
Matahari tetap terbit,
tapi tak lagi membawa pagi.
Hanya bayangan panjang dari bangunan tinggi
dan suara langkah yang entah menuju ke mana.
Resolusi tentu bukan dipatri 1000 syair Sahdu.
Tetapi agresi Kompensasi Pemerintah yang mengandung solusi yang dicari.
*) Penyair dari Tanah Pasundan, Tanah Yang Lahir Direstui dan Diberkahi, karena Diciptakan Ketika Tuhan Tersenyum