HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Puisi Esai Denny JA Diakui Dunia sebagai Inovasi Sastra di BRICS Literature Award

December 2, 2025 05:21
IMG-20251202-WA0005

Oleh Narudin Pituin | Sastrawan, Penerjemah, dan Kritikus Sastra

Nobel Sastra dan Penghargaan Khusus untuk Inovasi Sastra Denny JA di Dunia

HATIPENA.COM – Sejak dahulu terdengar pertanyaan ironis, kapankah ada sastrawan Indonesia yang mendapat penghargaan Nobel Sastra?

Pertanyaan ini seperti ditujukan kepada seluruh sastrawan di dunia sedemikian rupa sehingga yang menjawabnya pun tentulah saja sukar karena ditujukan kepada semua sastrawan.

Walaupun demikian, Dmitry Kuznetsov, Kepala Sekretariat Penghargaan, berani menyatakan bahwa BRICS Literature Award sebagai alternatif atas Nobel Sastra yang dinilai kian politis saja.

Dengan begitu, derajat penghargaan Nobel Sastra telah berada dalam bayang-bayang kuasa politis. Sebagai konsekuensi logis, hal ini tentu dapat mengurangi wibawa Nobel Sastra dan mendorong terbentuknya penghargaan alternatif atas Nobel Sastra tersebut, yakni BRICS Literature Award.

BRICS Literature Award ingin mengembalikan sastra kepada nilai-nilai yang dihidupi Global South, yaitu kearifan lokal, keadilan, humanisme, dan solidaritas internasional.

Alhasil, Salwa Bakr dari Mesir mewakili suara perempuan dan kaum tertindas. Sedangkan, Denny JA dari Indonesia mewakili inovasi bentuk baru puisi. Keduanya melengkapi misi dan visi BRICS Literature Award demi membangun ruang budaya dunia yang lebih inklusif.

Pengakuan genre baru yang diterima Denny JA di tingkat internasional jarang sekali terjadi. Dalam sejarah sastra dunia, hanya sedikit kasus, misalnya, pertama, realisme magis.

Realisme magis ialah genre sastra dan seni yang memadukan realitas sehari-hari dengan anasir magis atau fantastis. Penyajian anasir magis sebagai bagian dari kehidupan normal, tanpa penjelasan. Ini membuat pembaca menerima hal-hal fantastis sebagai bagian dari cerita. Penulis terkenalnya, misalnya, Gabriel García Márquez.

Kedua, absurdisme. Absurdisme ialah gerakan filsafat dan seni yang menekankan ketidakabsahan dan ketidakbermaknaan hidup. Samuel Beckett ialah salah satu tokoh utama absurdisme dalam sastra.

Ketiga, surealisme. Andre Breton ialah tokoh utama surealisme, yakni sebuah gerakan seni dan sastra yang muncul pada awal abad ke-20. Surealisme bertujuan untuk mengungkapkan alam bawah sadar dan dunia mimpi melalui karya seni dan sastra.

Indonesia belum pernah memiliki genre yang diakui internasional secara formal sampai lahir puisi esai yang digagas oleh Denny JA. Sebab bagi Denny JA, penghargaan inovasi bersifat jangka panjang. Penghargaan untuk genre dikenang sepanjang sejarah sastra.

Begitulah perjalanan perjuangan Denny JA dengan puisi esainya telah menuai hasilnya. Ia mendapat penghargaan khusus untuk inovasi sastra (Special Prize for Innovation in Literature), yaitu genre puisi esainya. Denny JA dikatakan menjadi sosok yang menandai arah baru bagi sastra kontemporer.

Dari sepuluh finalis dunia, dari Brazil hingga Ethiopia, dari Cina hingga Iran, hanya satu yang dipilih untuk menerima Special Prize For Innovation in Literature, penghargaan khusus yang diciptakan BRICS untuk penulis yang menghadirkan terobosan genre baru sastra.

Penghargaan khusus itu diserahkan kepada Denny JA atas kontribusinya memperkenalkan dan mengembangkan genre puisi esai, yang mengawinkan puisi (fiksi) dan kenyataan sosial (fakta) dalam satu wadah genre puisi esai.

Puisi esai telah merentang dari Indonesia ke pelbagai negara, menjadi cara baru membaca sejarah sosial, kemanusiaan, dan penderitaan.

Maka, penghargaan untuk Denny JA ini tidak hanya sebagai hadiah spesial bagi inovasinya dalam lapangan sastra, tetapi juga ia telah turut mengharumkan nama negara Indonesia di panggung dunia, di gelanggang internasional. Hal ini disepakati oleh Sastri Bakry, Koordinator BRICS Literature Network di Indonesia.

BRICS menyatakan sastra global tidak sekadar tentang siapa yang terbaik tahun ini, tetapi juga siapa yang membuka jalan baru bagi sastra di masa depan. Maka, inovasi bagi Denny JA ialah kompas masa depan sastra itu. Dan terobosan artistik sebagai kompas masa depan sastra ini dimenangkan oleh Denny JA, sastrawan dari Indonesia, yang telah memperjuangkannya sejak tahun 2012 hingga tahun ini 2025.

Diagnosis Semiotika Puisi Esai sebagai Genre Baru Sastra yang Diakui Dunia

Pada tahun 2012, dalam esai yang ditulis oleh pakar sastra, Sapardi Djoko Damono, disebutkan bahwa apabila puisi esai gabungan dari cerita dan berita—atau fiksi dan fakta—maka, Sapardi mengatakan puisi esai dapat menjadi genre baru sastra.

Bertahun-tahun dari tahun 2017 hingga tahun 2025 saya, Narudin Pituin, sebagai penulis buku-buku teori sastra kontemporer dan kritik sastra akademis, selalu berikhtiar membongkar rahasia genre puisi esai, apa benar yang dikatakan oleh Sapardi tentang genre puisi esai itu sahih.

Secara semiotik, frasa “puisi esai” itu frasa yang sumbang karena menggabungkan “puisi” dan “esai”. Puisi ialah salah satu karya sastra, sedangkan esai dapat dikatakan sebagai ilmu sastra dalam arti ilmiah. Selayang pandang frasa “puisi esai” tidak masuk akal. Namun, dilihat secara posmodern, bentuk puisi esai ialah bentuk relatif dari kemapanan dimensi puisi dan dimensi esai—yang pada hakikatnya secara absolut ialah “puisi (yang bercitarasa) esai”.

Ini adalah istilah yang khas dari Denny JA sebagai ketaklaziman atau ostranenie, yang pernah disampaikan oleh Viktor Shklovsky dalam esai termasyhurnya berjudul “Art as Technique” (1917). Ostranenie ialah teknik seni untuk mengubah persepsi kita yang biasa menjadi tidak biasa atau baru. Ini membuat kita melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Puisi ialah fiksi, dan catatan kaki ialah fakta—dalam arti bukan fiktif, berisi sejarah sosial, dokumentasi, dan peristiwa nyata yang tengah terjadi.

Secara semiotik indeksikal, hubungan fakta dan fiksi sebagai indeks terbalik, yaitu fakta sebagai “sebab” (catatan kaki) bagi “akibat” terciptanya fiksi (tubuh puisi). Singkat kata, selama catatan kaki berupa fakta, bukan definisi kata atau istilah, dan puisi berupa fiksi yang tercipta dari catatan kaki itu, maka genre baru puisi esai belum pernah ada di dunia.

Jelas, masuk akal jika puisi esai diakui dunia dan pantas saja Denny JA meraih penghargaan khusus untuk inovasi sastranya dari BRICS. (*)

Subang, 1 Desember 2025

Referensi

  1. Berita dari Khabarovsk, Rusia, 30 November 2025.
  2. Narudin. 2020. Epistemofilia: Dialektika Teori Sastra Kontemporer. Pasuruan: Qiara Media.
  3. Narudin. 2023. Sintesemiotik: Teori dan Praktik. Batam: MirNov.

@⁨Denny JA⁩
@⁨Yusrizal Karana⁩
@⁨Jonminofri⁩
@⁨SATRIO ARISMUNANDAR⁩
@⁨Reiner Ointoe⁩
@⁨Swary Utami Dewi⁩
@⁨Amelia Fitriani2⁩
@⁨Sastri Bakry⁩