HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Saat Ledakan Lebih Terdengar daripada Suara Korban

November 26, 2025 11:55
IMG-20251126-WA0023

Oleh: Ririe Aiko | Penulis

HATIPENA.COM – Puisi esai terinspirasi dari kasus nyata siswa SMAN 72 Jakarta yang membawa bahan peledak ke sekolah karena dibully. (1)

—000—

Ia sudah mencoba bicara.
Pelan, lirih, nyaris patah
hatinya sudah lama teriris
Menjadi serpihan kaca
Yang menghenyapkan keberanian

“Aku dibully, Bu…”
“Aku disakiti, Pak…”

Tapi suara itu tenggelam
di tengah administrasi,
rapat kurikulum,
dan orang dewasa yang lebih sibuk
mengamankan slogan ketertiban
daripada mendengarkan kesakitan.

Di ruang bimbingan,
suara remaja itu terperangkap
di antara senyum formal dan hiburan kosong.

Laporan dianggap keluhan biasa (2)
air mata dianggap fase pendewasaan
dan luka dianggap kenakalan remaja
yang akan sembuh sendiri.

Padahal, luka tak selalu sembuh dengan kata
Ia butuh tindakan
Ia butuh rangkulan
Airmata yang terlalu lama tertahan
Butuh saputangan yang menenangkan
Bukan tangan-tangan yang mengabaikan

—000—

Maka pagi itu,
ada sesuatu yang berubah di dadanya.
Ia tak lagi membawa buku,
ia membawa sebuah keputusan.
“Dari nanah di dada
yang terlalu lama dibungkam diam.”

Siswa SMAN 72 Jakarta itu
datang dengan napas penuh amarah
dengan tangan yang gemetar:
bukan karena ingin melukai,
melainkan karena terlalu sering dilukai

Bom kecil itu
bukan pilihan waras,
melainkan jerit yang memadat
ketika semua telinga menutup. (3)

Saat dentuman terdengar,
dunia dewasa baru terbangun.
Baru mereka sadar bahwa
anak itu sudah lama berteriak
dan ledakan hanyalah bentuk terakhir
dari sebuah permohonan
yang tak pernah mereka dengarkan.

Ledakan kecil itu membuat kaca pecah,
membuat kulit orang lain terbakar,
tapi yang lebih menggelegar
adalah kenyataan:
anak-anak berjatuhan menjadi korban.

Para guru terkejut.
Dunia seperti berhenti sejenak.
Headline berita bermunculan di media,
menggema tanpa suara.
Semua bicara dalam hening,
bertanya pada diri sendiri
mengapa seorang korban
bisa berubah menjadi pelaku?

Barangkali,
ia terlalu lama tumbuh dari bisik-bisik yang menusuk,
dari ejekan yang terpaksa dipendam,
dari tumpukan aduan yang disimpan
hingga menjadi sesak,
tak menyisakan sedikit pun ruang bernapas.

Perlahan ia mulai percaya
bahwa di dunia ini tak ada lagi tempat
yang bisa menjadi rumah aman baginya.

Suaranya tak pernah didengar,
Suaranya selalu tenggelam
Diantara kurikulum dan penilaian

Namun kali ini,
semua orang mendengarnya.
Karena ledakan itu telah bicara paling lantang
Lebih dari jeritan
“Aku disakiti!” (*)

—-Catatan—-

(1)https://www.kompas.com/edu/read/2025/11/11/071646871/bom-waktu-pendidikan-yang-meledak-karena-bullying
(2)https://megapolitan.kompas.com/read/2025/11/18/12013981/cerita-yang-terbuka-perlahan-setelah-ledakan-mengguncang-sman-72
(3)https://youtu.be/BdD9jEtnvvA?si=QMShkKeIJLxnE2dr