HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Satu Hari Sebelum Hari Pahlawan, 10 November 1945

November 9, 2025 11:11
IMG-20251109-WA0016

by bambang oeban | Sastrawan

HATIPENA.COM – Sehari sebelum 10 November, Surabaya belum jadi kobaran, tapi bara sudah menjalar di dada rakyat, di antara karung beras, peluru, dan doa ibu di langit-langit rumah yang bocor.

Tak ada yang tahu, esok subuh mereka akan menulis sejarah dengan darahnya sendiri, tanpa tanda tangan, tanpa materai, tanpa selfie di depan tugu. Anak-anak muda di kampung Tambaksari bersenandung pelan:

“Hei Bung, mari kita rebut kembali!” sementara radio kumal di pojok rumah memutar kabar, bahwa tentara Sekutu datang dengan bendera putih tapi berbekal dendam. Bahwa bendera Belanda kembali berkibar di hotel Yamato, lalu ada tangan yang merobeknya, ada nyali yang menolak tunduk, ada lidah yang tak mau mengucap kata menyerah. Tapi sehari sebelum itu, masih ada pemuda yang sibuk menambal sandal, ibu-ibu yang menanak nasi jagung, bapak-bapak yang menyembunyikan golok di bawah kasur, dan tukang becak yang diam-diam menghafal doa syahid. Surabaya belum terbakar, tapi sudah bergetar. Di pojok gang sempit, ada suara ronda menggema:

“Waspada, kawan! Bukan hanya peluru yang menembak, kadang janji juga bisa membunuh lebih pelan!”

Dan di meja kecil berlampu minyak, para pemuda berdebat antara hidup dan mati. Yang satu berkata:

“Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah.” Yang lain menjawab getir: “Lebih baik hidup miskin tapi merdeka, asal tak dijajah oleh bangsanya sendiri nanti!”

Oh, betapa satire nasib bangsa ini, bahkan sebelum perang dimulai, bayangan pengkhianatan sudah menyalakan lilin di ruang rapat. Sehari sebelum hari pahlawan, para ibu masih mencuci baju di kali Brantas, tapi kali itu lebih merah dari biasanya. Katanya air itu memantulkan langit senja, tapi seorang bocah berseru:

“Bu, itu bukan senja itu … darah yang hanyut dari selatan.” Sang ibu diam. Ia tahu, barangkali darah itu milik seseorang yang baru saja berkata “Merdeka!” dengan sisa napas terakhirnya.

Di pasar Wonokromo, harga garam naik dua kali lipat, bukan karena inflasi, tapi karena air mata lebih asin dari laut. Dan pedagang-pedagang itu tahu, besok mungkin tak ada lagi pasar, karena yang tersisa hanya puing, dan kenangan yang dijual kepada generasi berikutnya. Surabaya malam itu seperti dada seorang ibu: penuh getar doa, penuh cemas, penuh pasrah. Mereka tahu, kemerdekaan bukan hadiah dari dewa, melainkan tagihan dari arwah. Ada seorang kiai tua di masjid Ampel berbisik lirih:

“Perang ini bukan hanya melawan bangsa asing, tapi juga melawan rasa takut di dada sendiri.”

Murid-muridnya menatap dengan mata yang menyala, karena di bawah langit gelap itu, agama dan tanah air melebur dalam satu kata: pengorbanan. Lalu datanglah malam panjang itu, sehari sebelum 10 November. Bukan malam biasa, karena setiap desir angin membawa kabar kematian. Tapi kematian di mata rakyat Surabaya bukan akhir, melainkan awal. Awal untuk berdiri, meski kaki tak lagi kuat, awal untuk percaya, meski dunia tak peduli. Dan di pojok jalan Darmo, seorang bocah menulis di dinding:

“MERDEKA ATAU MATI!” hurufnya miring, tintanya darah ayam, tapi semangatnya lurus menembus masa depan. Sehari sebelum hari pahlawan, tidak ada yang bicara tentang jabatan, tidak ada yang peduli siapa pemimpin siapa.

Semua sama yang berseragam, yang bertelanjang dada, yang punya senjata, yang hanya punya doa. Mereka semua sepakat, bahwa bangsa ini tidak boleh kembali dipasung. Tapi tujuh puluh sembilan tahun kemudian, kita berkumpul di depan tugu, menyanyikan lagu wajib, membacakan naskah upacara, dan selfie di bawah tulisan

“PAHLAWAN TAK DIKENAL.” Lucunya, mereka yang dulu berjuang tanpa nama, kini dipuja oleh yang tak paham makna. zironi menjadi bendera baru, dan sejarah menjadi caption yang sunyi.

Mari kita tertawa sebentar, karena negeri ini terlalu serius melupakan pahlawannya. Kita tertawa di depan televisi saat para “pahlawan masa kini” berdebat di layar kaca, bukan tentang kebenaran, tapi tentang siapa yang paling banyak bicara. Kita tepuk tangan untuk iklan bertema perjuangan, yang diakhiri dengan slogan produk sabun. Kita bangga memakai batik bermotif garuda, tapi lupa bagaimana caranya menegakkan kepala di depan ketidakadilan.

Sehari sebelum hari pahlawan, yang mereka pikirkan adalah cara bertahan hidup. Sehari sebelum hari pahlawan hari ini, yang kita pikirkan adalah cara menaikkan engagement rate.

Oh, betapa jauh jarak antara makna dan peringatan. Kita menyebut mereka pahlawan, tapi kita biarkan anak cucunya hidup miskin di kampung yang becek. Kita tabur bunga di makamnya, tapi kita siram kebohongan di kursi-kursi kekuasaan. Kita nyalakan lilin, tapi kita matikan nurani dengan alasan “demi stabilitas”.

Dan bila pahlawan-pahlawan itu bangkit lagi malam ini, mereka mungkin tak mengenali bangsa yang dulu mereka bela. Mereka mungkin akan bertanya dengan getir:

“Apakah ini kemerdekaan yang kami menangkan?” Dan kita hanya bisa menunduk, karena jawabannya pahit seperti ampas kopi di pagi peringatan. Tapi jangan salah paham, rangkaian syair ini bukan menghakimi, sebatas cermin berdebu yang ingin dibersihkan..Bukan untuk memaki, tapi mengingatkan: bahwa perjuangan tidak berakhir di halaman buku sejarah. Bahwa kemerdekaan harus terus diperbarui seperti tekad yang tak boleh karatan. Maka, jika engkau hari ini memegang pena, gunakan ia untuk melawan kebodohan.

Jika engkau memegang kamera, rekamlah kejujuran. Jika engkau duduk di kursi kekuasaan, jangan lupa berdiri untuk kebenaran. Dan jika engkau hanya punya suara kecil di tenggorokan, teriakkanlah Merdeka!, karena suara kecil yang jujur lebih berguna dari teriakan palsu di podium megah.

Sehari sebelum hari pahlawan, rakyat Surabaya tak tahu siapa yang akan dikenang, tapi mereka yakin satu hal: bahwa hidup yang tak diperjuangkan adalah hidup yang sia-sia. Dan mungkin, itulah yang harus kita ingat sekarang, bahwa kemerdekaan bukan warisan, tapi titipan. Bukan monumen, tapi amanat.

Kini mari kita bayangkan, seandainya Bung Tomo hidup hari ini, apa yang akan dia katakan di depan mikrofon? Mungkin suaranya akan serak, tapi katanya tajam:

“Jangan biarkan Indonesia dijajah lagi oleh kebodohan, oleh korupsi, oleh kepalsuan yang kalian pelihara!”

Dan kita, yang berdiri di sekitarnya, mungkin hanya bisa menunduk malu, karena kita terlalu sibuk membela pihak, bukan kebenaran. Di taman makam pahlawan, angin masih setia membacakan doa.

Nama-nama di batu itu masih sama, tapi generasinya sudah berubah. Mereka yang dulu mengorbankan nyawa, kini digantikan oleh mereka yang mengorbankan nurani. Dan itu tragedi yang lebih mematikan. Namun harapan belum mati, karena di setiap dada masih ada bara kecil yang menolak padam. Bara itu yang dulu menyalakan Surabaya, dan bara itu pula yang bisa menyalakan Indonesia kembali, asal kita mau menjaga, bukan menjualnya.

Maka esok, saat sirene berbunyi dan bendera naik setengah tiang, ingatlah bukan hanya gugur, tapi juga bangun. Bukan hanya mati, tapi juga hidup kembali dalam sikap. Karena pahlawan sejati tidak butuh gelar, ia hanya butuh penerus yang jujur. Dan bila hari ini engkau masih bisa tertawa, bersyukurlah, karena di tahun 1945, tertawa berarti masih hidup. Tapi jangan biarkan tawa itu tuli terhadap penderitaan, jangan biarkan kebebasan itu kehilangan arah.

Sehari sebelum hari pahlawan, itulah saat ketika bangsa ini belajar arti keberanian, bukan dari pidato, tapi dari keputusan sederhana: untuk tidak menyerah. Dan mungkin sekarang, kita perlu belajar hal yang sama lagi.

Merdeka, kawan!
Bukan sekadar kata, tapi cara hidup. Bukan sekadar pekik, tapi sikap. Bukan sekadar peringatan tiap tahun, tapi perjuangan setiap hari. Karena kalau pahlawan dulu berperang
dengan senjata, kita sekarang berperang melawan lupa. Dan yang kalah melawan lupa, akan dijajah oleh kebohongan.

Surabaya, sehari sebelum 10 November 1945, masih berdebu, berdoa, tapi sudah pasti: mereka tidak pernah takut menjadi MANUSIA SEJATI! (*)

Dari Timur Bekasi
Minggu, 9 Nov 2025
02.00

Berita Terkait