Satu Jalan Perjuangan
Jil Kalaran | Koordinator FPKS
HATIPENA.COM – Setiap tiba 10 November, kita hanya punya satu fokus ; mengenang para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan. Padahal, dalam konteks kebudayaan, makna kepahlawanan tak berhenti pada medan perang.
Siapa pun mereka, yang berani menjaga nilai, bahasa dan jati diri bangsa di tengah arus global yang seragam dan cepat lupa, adalah pahlawan.
Mereka bisa seorang seniman yang setia berkarya dengan akar tradisi, guru yang menanamkan cinta tanah air melalui cerita rakyat, atau anak muda yang menghidupkan kembali musik daerah lewat media digital.
Sudah saatnya, nilai-nilai kepahlawanan masa kini digeser dari perlawanan bersenjata menjadi perlawanan kultural, sebagai cara melawan sikap abai terhadap nilai dan warisan budaya.
Melestarikan tari dan ritual lokal, menulis dalam bahasa ibu atau mencipta karya kreatif yang berpijak pada kebudayaan adalah bentuk perjuangan baru. Dan kita tidak boleh lengah bahkan lelah untuk berdiri bersama-sama memperjuangkan warisan-warisan itu.
Di sinilah kebudayaan berperan penting: ia bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk menumbuhkan jiwa merdeka dan berdaulat.
Memaknai Hari Pahlawan hari ini berarti berani menjadi penjaga kebudayaan.
Bangsa yang menghargai pahlawannya bukan hanya bangsa yang mengenang masa lalu, tetapi yang terus menumbuhkan semangat kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari, melalui pikiran, karya dan kebudayaan.
Tema “Satu Jalan Perjuangan : Merayakan Hari Pahlawan sekaligus Merayakan WS. Rendra” inilah yang diangkat oleh Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS) dalam gelaran Surabaya Hari Ini #05 pada 10 November, mulai pukul 16.00 hingga 21.00, di Pelataran Balai pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya.
Ini merupakan momentum untuk membaca ulang soal nilai-nilai kepahlawanan tersebut. Dan “Si Burung Merak” WS. Rendra, yang lahir pada 7 November 1935 silam boleh dibilang sempurna untuk ditasbihkan sebagai Pahlawan oleh sebab kerja kreatifnya dalam memperjuangkan orang-orang miskin yang dihinakan, memperjuangkan kesetaraan dan keadilan dengan mengedepankan jalan kebudayaan.
Sebagai seniman, Rendra adalah perintis sekaligus pembaharu teater kontemporer di republik ini. Bersama Bengkel Teater yang dibangunnya tahun 1967 di Yogyakarta, Rendra tak hanya memperkenalkan pendekatan baru dalam seni pertunjukan yang kemudian berpengaruh besar terhadap perkembangan teater modern di tanah air kita ini, melainkan juga melahirkan banyak dramawan yang kemudian menjadi tonggak teater modern-kontemporer di negeri ini.
Dalam gelarannya kali ini, mengingat durasinya yang agak panjang, FPKS membagi dua pertunjukan. Pertunjukan pertama oleh Rumah Kreatif binaan Disbudporapar Kota Surabaya, mulai pukul 16.00 hingga 17.30. Para penampilnya mulai dari anak-anak hingga remaja.
Rumah Kreatif yang proses latihannya berada di Kompleks Balai Pemuda Surabaya ini adalah untuk mewadahi dan memberikan wawasan seni kepada warga Kota Surabaya. Ada 13 macam kursus seni yang diajarkan di Rumah Kreatif Balai Pemuda ini. Dan kesemuanya ini diajarkan secara Gratis bagi warga Kota Surabaya, maupun warga luat Kota Surabaya.
Pertunjukan kedua, pukul 19.00 – 21.00, adalah para penampil dari berbagai usia dan latar=belakang. Ada Vokal Grup asuhan Rumah Kreatif. Ada Aska Haydarrahman yang berkebutuhan khusus dan pernah didaulat jadi narasumber. Ada Reza Haris yang masih kuliah jurusan tafsir hadis dan sangat ingin bikin buku puisi karena karyanya sudah banyak. Juga ada Galuh Kinasih dari Ilmu Komunikasi Unair.
Gelaran ini juga bakal dimeriahkan oleh teman-teman Sekolah Tinggi Kesenian Wiwatikta (STKW) Surabaya yang diboyong oleh dosennya, Deny Tri Aryanti. Juga Miracle Band pimpinan Hari TJ, dengan proyek kolaborasi yang disebut Sahabat Indonesia Satu, yang berfokus pada penyampaian pesan persatuan melalui musik dan ikut mensponsori panggung, sound dan lampu pertunjukan, sehingga mungkin akan tampak mewah.
Mukhsin Amar, musisi sekaligus pelukis, bakal tampil dengan suaranya yang khas. Chrisman Hadi (Ketua DKS) tak mau kalah ambil bagian di forum ini. Desemba Sagita, Arul Lamandau, Heru Prasentyono dan Widodo Basuki adalah nama-nama yang tak asing di kancah kesenian Surabaya. Mereka akan memberi kejutan lewat kolaborasinya (diberi nama Desemba & Brothers) membaca karya Rendra.
Kota Surabaya memang harus terus dinyatakan melalui kegiatan-kegiatan keseniannya yang sebetulnya terus bertumbuh. (*)