Rosadi Jamani | Penulis
Ketua Satupena Kalbar
HATIPENA.COM – Cerita kemajuan boleh, dong. Tak lah cerita korupsi, ijazah mulu. Ini kemajuan Kalbar, daerah saya. Untuk pertama kalinya berdiri hotel bintang lima. Indikator Bumi Khatulistiwa makin maju. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Nuan bayangkan Kalbar sebagai remaja yang baru puber, tiba-tiba tumbuh hotel bintang lima pertama, jalanan macet seperti Jakarta versi mini, dan pecel lele bermunculan bak jamur di musim hujan. Kalau ada yang bilang ini cuma kebetulan, berarti dia belum pernah ke Pontianak jam lima sore, di mana motor dan mobil berebut satu inci aspal. Sementara aroma sambal pecel lele menguar dari setiap sudut trotoar. Ini membuktikan, kemajuan itu nyata, berbau bawang goreng, dan tak pernah tidur.
Dulu, orang mengukur kemajuan dengan PDRB, inflasi, atau indeks kebahagiaan yang dibuat orang kantoran berjas. Sekarang? Cukup tiga hal, yakni hotel mewah, kemacetan kronis, pecel lele 24 jam. Kalau ketiganya ada, selamat, daerahmu sudah lulus ujian evolusi ekonomi. Kalbar? Lulus dengan cum laude, plus bonus bintang emas dari langit Khatulistiwa.
Data BPS per November 2025 mencatat PDRB triwulan III tumbuh 5,31 persen (y-o-y), di atas rata-rata nasional 5,04 persen, didorong pertambangan bauksit dan pasir silika yang melonjak 33,96 persen. Kumulatif Januari–September, 5,30 persen. Empat tahun lalu, pertumbuhan penuh 2024 hanya 4,98 persen. Angka-angka ini bukan cuma statistik, mereka adalah detak jantung provinsi yang sedang berlari.
Four Points by Sheraton di Kubu Raya, yang diresmikan Wagub Krisantus Kurniawan pada 12 November 2025, bukan sekadar bangunan beton bertingkat. Ia adalah mercusuar harapan, menara Babel versi tropis, dan yang terpenting, hotel bintang lima pertama di garis khatulistiwa, pecah telor setelah sekian lama menunggu investor berani bertaruh pada daerah Kapuas. Tempat investor dari negeri seberang mendarat dengan koper Louis Vuitton dan mimpi hilirisasi bauksit.
Dengan 196 kamar ber-AC sentral yang luas minimal 32 meter persegi, suite-level mewah lengkap brankas pribadi dan bathub bergelembung, plus butler concierge yang siap memijat ego tamu VIP, hotel ini menawarkan kelebihan bintang lima sejati. Ada kolam renang infinity yang bikin sungai Kapuas iri, fitness center 24 jam untuk bakar kalori sambil ngeliat pemandangan tropis, spa kelas dunia yang campur rempah lokal dengan aroma lavender impor, serta ballroom terbesar di Kalbar, muat 2.000 orang duduk atau 4.000 berdiri untuk event MICE yang bikin konferensi nasional pindah ke sini.
Tambah multiple resto fine dining dan rooftop bar yang sajikan hidangan laut sungai ala Pontianak, lengkap Wi-Fi supercepat dan layanan kamar tak kenal waktu, semua di bawah jaringan Marriott Bonvoy, di mana setiap check-in seperti upgrade kelas ke first class. Setiap kamar suite yang dibuka adalah satu lagi alasan kenapa anak muda Kalbar tak perlu merantau ke Jakarta hanya untuk merasakan lift ber-AC.
Kemacetan? Oh, itu bukan kutukan, itu symphony. TomTom 2025 mencatat indeks kemacetan Pontianak di 42 persen, naik dari 38 persen dua tahun lalu. Kendaraan bermotor tumbuh 7,2 persen per tahun, tertinggi di Kalimantan. Di balik asap knalpot, ada ribuan roda yang berputar, ojek online mengantar mimpi, truk bauksit mengangkut masa depan, dan mobil dinas bupati yang terjebak macet, bukti pejabat pun tak kebal hukum gravitasi ekonomi.
Tapi pahlawan sejati adalah pecel lele. Di tengah malam buta, ketika hotel bintang lima sudah menutup spa-nya, gerai “Pecel Lele Lamongan” masih menyala terang benderang. Data GoFood 2025, lebih dari 300 gerai di Pontianak, 60 persen buka sampai pukul 02.00, 30 persen 24 jam. Rata-rata transaksi Rp28 ribu per orang, naik 15 persen dari 2023. Di sana, sopir truk, satpam hotel, dan mahasiswa mabuk tugas duduk berdampingan, menyatukan perut dan peradaban dalam satu piring. Pecel lele bukan makanan, ia adalah demokrasi yang bisa dimakan.
So, kalau ada yang masih ragu negeri kekuasaan Ria Norsan maju, ajak dia ke Bundaran Karya jam enam sore. Biarkan dia terjebak macet, hirup asap knalpot bercampur sambal, lalu tanya, “Masih bilang kita terbelakang?” Kalbar bukan lagi provinsi yang cuma punya hutan dan sungai. Kita punya hotel bintang lima pertama yang bikin tamu asing lupa pulang, kemacetan yang bikin GPS menangis, dan pecel lele yang buka sampai subuh, tiga pilar peradaban yang tak pernah diajarkan di buku teks ekonomi manapun.
Kalbar bukan sedang bangkit. Kita sudah terbang, sayapnya terbuat dari bauksit, baling-balingnya berputar dengan klakson angkot, dan bahan bakarnya adalah sambal pecel lele yang tak pernah habis. Selamat datang di masa depan, di mana kemajuan diukur bukan dengan angka, tapi dengan seberapa lama kamu rela antre demi sepiring ikan goreng dan mimpi yang lebih besar dari Kapuas itu sendiri.
“Abang tak diundang ya saat peresmian?”
“Emang siape saye, wak. Tapi, boleh lah kite ngopi nanti di sana.” Ups.. (*)
#camanewak
Foto Ai hanya ilustrasi