Fanny J. Poyk | Novelis
HATIPENA.COM – Sepupu saya jago menggambar. Sejak SD bakat menggambarnya sudah terlihat, apalagi menggambar yang realis, sangat mirip. Saya berharap ia menjadi pelukis suatu saat kelak.
Selain menggambar, dia sangat cerdas. Pandai pelajaran berhitung/matematika seperti adik saya almarhum yang dosen F-MIPA Universitas Indonesia.
Sayang ortunya tak suka dia jadi seniman, dan menyuruhnya masuk ke sebuah akademi pemerintahan yang jika lulus, langsung diangkat sebagai Aparat Sipil Negara (ASN/PNS). Padahal berkat kepandaiannya saat itu ia juga diterima di ITB. Namun apa daya, ortunya lebih suka dia jadi pegawai negeri dengan asumsi kelak pangkatnya naik dan bisa jadi pejabat berkat kepandaiannya itu.
Harapan orangtuanya jadi kenyataan. Dia meniti karier di sebuah instansi Pemerintah dan dikirim ke daerah lalu menjadi kepala di sana. Dan instansi ini menurut saya berseberangan dengan bakat melukis/ menggambarnya juga ilmu sains/pasti yang sangat dikuasainya karena tempatnya bekerja lebih menukik ke dunia kerja sosial kemasyarakatan.
Singkat cerita, sepupu saya itu pensiun dan memilih tinggal di NTT. Dia pensiun sebagai kepala di instansi pemerintahan yang ada di daerah NTT, bukan pejabat tinggi di Ibu Kota seperti yang diharapkan ortunya.
Lalu saya menelponnya dan mengajaknya melukis lagi dan ikut pameran seperti yang saya lakukan. “Ayo melukis Di, aku aja yang tak terlalu bisa melukis realis kayak kamu, sudah pameran di mana-mana.” Kata saya memberi semangat.
Sepupu saya diam sejenak. Lalu jawabnya, “Aku sudah tidak bisa menggambar lagi Ni, jari-jariku suka gemetar jika pegang pensil, apalagi melukis dengan kuas dan cat di atas kanvas, sudah kacau. Aku kena stroke Ni…” Ucapnya serak sambil menyebut nama belakangku.
Saya tersentak. Ketika dia menceritakan kondisinya, dengan uang pensiun sekian dan ada anak-anak yang masih kuliah, lalu dalam keadaan stroke tak bisa berbuat apa-apa dan hanya duduk di kursi roda atau berjalan tertatih-tatih, saya merenungi kisah perjalanan hidup kemanusiaan itu sendiri
Ada manusia di perjalanan hidupnya menjadi pembunuh yang jahat, ada yang menembakkan senjata dan bom bunuh diri, ada yang menjadi penipu, ada yang menikah lalu di KDRT dan diselingkuhi oleh suami atau istrinya, ada anak yang menyia-nyiakan orangtua setelah mereka sukses menaruh ortu mereka di panto jompo, ada yang berhasil dan sukses di kehidupan mereka, semua menjadi takdir waktu yang tak pernah kita tahu ending dari kontrak di bumi selesai.
Betapa nihilisme kemanusiaan bisa datang tanpa diduga, kewaspadaan terhadap karakter diri sendiri berpelukan erat dengan situasi, pergaulan dan menata hati untuk mampu menilai mana yang baik dan jahat agar langkah dan kehendak tidak terperosok ke jurang kehancuran kehidupan yang menganga di depan mata. Itulah sebabnya, kata para ahli agama, dekat kepada-Nya penting.
Dekat bukan berarti menjadi ekstrim kiri atau kanan, tapi mampu menekan ego ke arah sikap yang lebih bijak, sebab posisi surga atau neraka alamatnya belum diketahui secara pasti, kecuali bagi mereka yang sudah out dari bumi yang fana ini. (*)
*Ok met sore guys, so let’s smile for our life