HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Siang di Surga, Malam di Neraka

November 14, 2025 10:13
gmbr

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya | Penulis

HATIPENA.COM – Kamis pagi, 13 November 2025. Matahari Denpasar baru naik setinggi dada ketika saya memulai perjalanan menuju Jembrana.

Bukan untuk berwisata, melainkan untuk memberikan keterangan sebagai saksi ahli di Pengadilan Negeri Jembrana.

Namun bukan kesaksian itu yang saya ceritakan—melainkan perjalanan yang membuka begitu banyak wajah paradoks Bali.

Dari Denpasar hingga Kediri, jalanan aman dan lancar. Namun memasuki Kerambitan, perjalanan tiba-tiba seperti menabrak dinding: ada truk besar mogok, memicu kemacetan yang mengular hampir satu kilometer.

Untuk mengejar waktu, teman saya yang membawa mobil memutuskan mengambil jalur alternatif—Mandung, Untag, Meliling, Bajra, lalu tembus di Pantai Soka.

Jalur itu ternyata surga tersembunyi: sawah-sawah menguning, sebagian sedang panen; jalan beton sempit yang sunyi; udara pagi yang jernih; dan panorama laut di kiri serta gunung yang tegak membiru di kanan. Saya seolah berada di surga.

Mobil yang saya tumpangi sempat melintasi tiga sungai melalui jembatan kecil yang hanya cukup untuk satu kendaraan. Bila ada kendaraan lain dari arah berlawanan, harus sabar menunggu. Bila air sungai besar, jembatan itu pasti tak bisa dilalui.

Kebetulan hari itu Sugian Jawa—di beberapa rumah, warga terlihat memakai busana adat, ibu-ibu mebanten, aroma dupa terapung di udara. Sebuah keteduhan yang membuat perjalanan terasa lebih dari sekadar perpindahan tempat.

Sekitar pukul sepuluh lebih sedikit, saya tiba di Pengadilan Negeri Jembrana. Namun perjalanan paling berat terjadi justru ketika pulang.

Selesai bersidang hampir jam 9 malam, karena ada tiga saksi yang memberikan keteranngan pada sidang itu. Akhirnya saya berangkat pulang dari Jembrana sekitar pukul 10 malam.

Gelap malam membentang di jalur barat Bali, hanya diterangi lampu-lampu kendaraan. Namun gelap itu bukan berarti sepi. Di banyak titik, jalur itu bak neraka; macet, sesak oleh truk-truk besar, kendaraan logistik, dan antrean panjang.

Penyebabnya klasik, karena ada mobil yang mogok yang hatus dipinggirkan sehingga mengundang kemacetan di belakangnya.

Di tengah suasana itu, satu hal terasa semakin jelas: jalur Denpasar–Gilimanuk sudah terlalu sesak, terlalu padat, dan nyaris menjadi satu-satunya nadi logistik Jawa–Bali. Sebuah beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh satu ruas jalan yang sempit dan berkelok.

Perjalanan pulang yang seharusnya bisa berlangsung cepat, akhirnya membuat saya tiba di Denpasar sekitar pukul 1.30 dini hari.

Mata sudah berat, tubuh lelah, namun pikiran tetap bekerja: bukankah kondisi ini semakin mendesak perlunya pembangunan Tol Denpasar–Gilimanuk?

Jika tak segera dibangun, Bali akan terus menghadapi paradoks yang makin menyakitkan: di satu sisi ingin mempertahankan ketenangan dan keindahan alamnya, namun di sisi lain tercekik oleh kenyataan bahwa jalur logistik dan transportasi menjadi makin padat dan rentan.

Jalur Denpasar–Gilimanuk bukan lagi sekadar jalan antar kabupaten; ia adalah urat nadi penghubung dua pulau, satu-satunya jalur darat antara Jawa dan Bali yang kini sudah tak mampu menampung bebannya.

Perjalanan hari itu bagaikan melihat Bali dari dua sisi: pagi di surga, suasana yang memanjakan mata dengan bentang sawah dan laut, serta malam di neraka, memperlihatkan betapa rapuhnya infrastruktur dilindas pesatnya pembangunan.

Bali memang indah—tetapi keindahan itu hanya bisa bertahan jika kita berani menghadapi paradoksnya dan mencari jalan keluar sebelum semuanya terlambat. (*)

Denpasar, 14 Nopember 2025