Mustiar Ar | Penulis
HATIPENA.COM – Di bawah pohon ketapang yang tua dan malas menjatuhkan daun, Bang Ridhoi duduk di atas tikarnya yang mulai menipis. Pagi masih basah, embun belum sepenuhnya menyerah, tapi ia sudah siap bekerja.
Benang, jarum, lem, palu kecil—semuanya berjejer seperti kawan lama yang tak banyak bicara tapi selalu setia.
Ia menghela napas panjang.
“Hari baru,” gumamnya.
Entah doa, entah sekadar pengingat bahwa hidup harus terus digeser maju meski kadang kaki tak ikut patuh.
Seorang mahasiswa datang tergesa, napasnya terpotong-potong.
“Bang, tolong ya… ini sepatuku patah di tengah jalan. Malu aku kalau masuk kelas begini.”
Bang Ridhoi menerima sepatu itu dengan lembut, seperti menerima bayi kecil yang baru lahir.
“Tak apa, Nak. Duduk dulu. Yang patah tak selamanya hancur. Kadang cuma butuh diperbaiki.”
Mahasiswa itu tersenyum, sedikit canggung.
“Bang… orang bilang kerja begini capek ya?”
Bang Ridhoi hanya menatap telapak sepatu yang sobek.
“Kerja apa pun capek. Tapi yang paling capek itu menanggung hinaan. Itu yang aku usahakan agar tak makan hati.”
Mahasiswa itu menunduk, tidak tahu harus menjawab apa.
Dan suara palu yang jatuh memecah kesunyian pendek di antara mereka.
Siang merayap perlahan seperti ular malas.
Panas menggigit, tapi Bang Ridhoi sudah kebal oleh tahun-tahun yang menguji.
Satu per satu orang datang, sebagian untuk memperbaiki sepatu, sebagian lagi hanya lewat sambil menilai dengan mata.
Seorang ibu muda mendekat. Wajahnya cemas.
“Bang… bisa bantu? Anak saya cuma punya satu sepatu ini. Besok dia lomba pidato di sekolah.”
Bang Ridhoi memeriksa sepatu kecil yang terkulai seperti burung dengan sayap patah.
“Bisa. Biar kukerjakan duluan.”
Ibu itu duduk, menggenggam tasnya erat.
“Bang… anak saya sering diejek. Katanya dia miskin. Saya… saya cuma ingin dia tampil pantas besok.”
Bang Ridhoi berhenti sejenak. Menatap ibu itu dalam-dalam.
“Ibu… orang boleh lahir kaya atau miskin. Tapi anak Ibu lahir dengan suara. Kalau ia percaya pada suaranya, dunia akan diam mendengarkannya.”
Air mata ibu itu jatuh perlahan.
“Terima kasih, Bang…”
“Sudah. Jangan nangis di sini, nanti orang kira aku bikin masalah,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Sepatu kecil itu akhirnya kembali rapi.
Harapan ibu itu ikut lurus bersama sol yang ia satukan dengan cinta.
Menjelang sore, angin membawa aroma laut.
Orang-orang di sekitar jalan mulai tenang, suara motor berkurang, dan bayang-bayang pohon ketapang beranjak panjang.
Seorang pejabat lewat dengan rombongannya.
Ayam-ayam kampung pasti kabur kalau melihat betapa riuh mereka.
Fotografernya mencondongkan kamera ke arah Bang Ridhoi.
“Bang, boleh foto sebentar? Untuk dokumentasi kegiatan kami.”
Bang Ridhoi menunduk, melanjutkan pekerjaannya.
Pejabat itu berdeham, memberi isyarat agar ia melihat kamera.
“Bang, sedikit saja. Agar terlihat bahwa kami peduli rakyat kecil.”
Bang Ridhoi menatap pejabat itu. Sorot matanya halus, tapi tegas seperti orang yang telah lama hidup dalam diam.
“Pak… kalau peduli, tak perlu kamera. Kalau kamera, tak perlu peduli.”
Pejabat itu tertegun.
Fotografer menurunkan kameranya perlahan.
Dan rombongan itu pergi tanpa kata-kata.
Azan magrib memukul langit dengan lembut.
Bang Ridhoi menarik tikarnya sedikit, merapikan alat.
Tinggal satu pelanggan terakhir hari itu: seorang anak laki-laki usia SMP dengan langkah ragu.
“Bang… maaf. Sepatuku patah. Aku tahu mungkin aku tak mampu bayar penuh… tapi aku butuh… aku butuh sepatu ini buat besok.”
Bang Ridhoi tersenyum.
“Kau butuh untuk apa?”
Anak itu menelan ludah.
“Untuk maju ke depan kelas. Aku juara kelas… tapi aku malu kalau sepatu begini. Teman-teman suka mengejek.”
Bang Ridhoi mendekatkan wajahnya ke anak itu.
“Nak… tahu tidak? Orang mengejek karena hidupnya kosong. Kau juara kelas—itu tandanya kepalamu penuh cahaya. Yang terang tak perlu takut pada bayang-bayang.”
Anak itu tertunduk.
“Bang… tapi sakit… diejek itu sakit.”
Bang Ridhoi berhenti bekerja sejenak.
“Nak… sakit itu bukan tanda kalah. Sakit itu tanda kau sedang tumbuh.”
Anak itu terisak.
Bang Ridhoi berdiri pelan, tubuhnya miring tetapi langkahnya mantap.
Ia menepuk pundak anak itu dua kali—pelan, tetapi penuh makna.
“Dengar. Kau mungkin datang dengan sepatu yang patah… tapi kau akan pulang dengan langkah yang utuh.”
Anak itu menghapus air matanya dan menunggu.
Tak lama, sepatu yang rusak itu kembali tegak, seperti seseorang yang baru belajar berdiri setelah jatuh panjang.
“Berapa, Bang?”
“Senyummu saja cukup,” jawab Bang Ridhoi.
Malam turun tanpa banyak suara.
Lampu-lampu jalan menyala seperti bintang yang lupa pulang.
Bang Ridhoi membereskan peralatan, pelan-pelan seperti merapikan kehidupan sendiri.
Sebelum pulang, ia menatap kedua tangannya yang penuh bekas jarum dan luka kecil.
Dari luka-luka itu, dunia orang lain menjadi sedikit lebih baik.
Dalam hati ia berkata,
“Yang patah bukan akhir. Yang patah hanya minta disatukan kembali.”
Ia menatap ke arah laut Meulaboh yang gelap.
Angin membawa suara-suara samar—suara jalanan, suara ombak, dan entah dari mana, seperti suara sepatu-sepatu yang pernah ia perbaiki… suara-suara yang dulu patah dan kini hidup kembali.
Bang Ridhoi tersenyum.
Bukan kemenangan yang ia rasakan, bukan pula kesedihan.
Hanya rasa bahwa ia masih berguna.
Dan itu sudah cukup untuk menyalakan besok.
Ia melangkah pulang dengan tubuh miring, tetapi hati tegak.
Di belakangnya, pohon ketapang tua bergoyang, seolah memberi salam hormat kepada seorang pekerja kecil yang martabatnya tak pernah ia lepaskan. (*)
— Meulaboh,24.11.2025