Frans Maniagasi | Penulis
HATIPENA.COM – Suara Denny JA terdengar lembut namun berdaya. Ia tidak meninggi, tetapi menggema jauh — menembus batas bahasa, budaya, bahkan benua. Dari Indonesia, gema itu sampai ke sepuluh negara anggota BRICS, membawa pesan yang tak sekadar estetika: pesan tentang manusia, nilai, dan masa depan.
Denny bukan hanya penyair, melainkan penerjemah zaman. Ia memotret denyut sejarah dunia dengan medium yang jarang digunakan untuk isu global: puisi esai. Melalui bentuk ini, ia menggabungkan fakta sosial dengan kebatinan manusia, menghadirkan refleksi yang ilmiah sekaligus puitik.
Tugasnya tidak ringan. Bagaimana menggambarkan cara pandang, perilaku, dan sikap dari beragam bangsa yang membentuk sistem nilai baru BRICS? Denny memilih jalan yang tidak konfrontatif: ia menulis dengan hormat. Dalam setiap karyanya, ada empati yang nyata terhadap manusia dan peradaban. Sikap hormat inilah yang membuatnya mudah diterima, bahkan dipercaya di banyak lingkar budaya internasional.
Puisi esai bagi Denny adalah alat perjuangan kolektif — bukan sekadar karya sastra. Ia menjadi wadah untuk menjaga nilai kemanusiaan di tengah arus rasionalitas modern. Dalam konteks BRICS, puisi esai mengajak dunia berpikir ulang tentang makna kebudayaan dan peran seni dalam menjaga keseimbangan global.
Namun, Denny juga menyadari tantangan baru: kemajuan kecerdasan buatan (AI). Ia tak menolaknya, tapi memeluknya dengan hati-hati. Bagi Denny, AI adalah bagian dari sains — rasional, berbasis fakta, dan tak berpihak — yang bisa menjadi mitra kebudayaan. Maka ia pun memadukan puisi esai dengan AI, menjadikannya jembatan antara tradisi dan masa depan.
Melalui sintesis itu, Denny menunjukkan bahwa puisi dan sains dapat berjalan seiring. Yang satu menjaga nurani, yang lain menuntun logika. Bersama-sama, keduanya menciptakan ruang baru bagi kebudayaan yang tangguh dan lentur — budaya yang tahu nilai apa yang ingin dijaga dan bangsa seperti apa yang ingin diwujudkan.
Keberhasilan Denny bukan hanya pada gagasannya, tapi pada suara yang ia bawa: suara yang tenang, jujur, dan autentik. Dalam setiap pertemuan dan tulisan, ia menunjukkan bahwa rasa hormat adalah bentuk paling tinggi dari kecerdasan emosional. Dari situ lahir keintiman — bukan sekadar relasi antara penulis dan pembaca, tapi antara manusia dan kemanusiaannya sendiri.
Kini, ketika dunia berbicara tentang teknologi, kekuasaan, dan kompetisi global, Denny JA berbicara tentang keseimbangan, kebijaksanaan, dan puisi. Karya-karyanya menjadi cahaya kecil yang menuntun arah: cahaya yang tak silau, tapi cukup kuat untuk menunjukkan jalan.
Itulah kekuatan suara Denny JA — suara yang kini menggema di forum budaya BRICS, dan mengantarnya ke panggung BRICS Literature Award 2025 sebagai simbol dialog antara akal, rasa, dan kemanusiaan. (*)