HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Tanpa Nobel, BRICS Literary Innovation Award pun Jadi Legasi Interkultur

December 1, 2025 11:34
IMG-20251201-WA0066

oleh ReO Fiksiwan | Sastrawan

Yang disampaikan dan ditulis Denny berasal dari suatu gagasan yang dengan jelas ia uraikan di dalam pengantar. Yang lebih penting lagi adalah bahwa ia telah mengangkat isu yang sepanjang pengetahuan saya belum pernah diungkapkan dalam puisi kita.“ — Sapardi Djoko Damono (1940-2020), Memahami Puisi Esai Denny JA dalam DENNY JA Atas Nama Cinta
Sebuah Puisi Esai (2012).

Saya selalu menolak penghargaan resmi dan tidak ingin seorang penulis dijadikan institusi.” — Jean Paul Sastre (1905-1980), menolak Hadiah Nobel Sastra 1964, yang dipublikasikan Le Figaro pada 23 Oktober 1964.

HATIPENA. COM – Selama hampir satu abad, Nobel Literary Award telah dijadikan tolok ukur utama pengakuan dunia atas karya sastra. Namun, sejarah panjang itu kini menghadapi kritik tajam.

Nobel tidak lagi bisa dijadikan satu-satunya rujukan universal, karena ia menyisakan bias geopolitik dan kultural yang menyingkirkan banyak suara dari belahan dunia lain.

Sastra dunia tidak boleh hanya diakui melalui satu pintu penghargaan yang lahir dari tradisi Eropa.

Di sinilah muncul gagasan bahwa BRICS, dengan Literary Innovation Award-nya, dapat menjadi alternatif yang sahih.

Semula, hanya BRIC (2006), kemudian menjadi BRICS setelah Afrika Selatan bergabung pada 2010.
Tujuan berdirinya BRICS untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, serta memperkuat posisi negara-negara berkembang di panggung global.

Peran BRICS sering dianggap sebagai penyeimbang dominasi Barat, misalnya G7, dalam urusan ekonomi dan politik internasional. Dan kini mempeluas aktivitas di bidang humaniora atau sastra.

Ia bukan sekadar pengganti, melainkan sebuah ruang baru yang menegaskan bahwa pengakuan atas karya sastra bisa lahir dari berbagai pusat kebudayaan, bukan hanya dari Stockholm (Barat-Eropa).

Dalam konteks ini, genre puisi esai yang digagas Denny JA (64) menjadi contoh menarik.

Ratusan karya puisi esai telah melintas benua, setidaknya Asia Tenggara, dan terus direproduksi melalui organisasi penulis Satupena dan KEAI.

Kehadiran genre ini bukan sekadar eksperimen, melainkan sebuah ikhtiar untuk meneguhkan posisi sastra Indonesia dalam peta Weltliteratur.

Ketika Nobel tidak lagi menjadi acuan, maka BRICS Literary Innovation Award dapat dipandang sebagai pemenuhan hasrat atas ikhtiar itu.

Bak analogi tentang ijazah palsu yang tak lagi membutuhkan pengakuan resmi menjadi relevan: pengakuan sejati lahir dari penerimaan pembaca lintas benua, bukan dari satu lembaga penghargaan yang hegemonik.

Mengacu dari kritik teks yang ditulis ReO Fiksiwan (67) dalam Epistemologi Sastra: Pendekatan Kritik Baru atas Teks-Teks Puisi Esai Denny JA (2024), makin memperkuat posisi ini.

Buku tersebut menunjukkan bahwa puisi esai bukan sekadar genre baru, melainkan sebuah medan epistemologis yang menantang cara lama membaca teks.

Dengan demikian, puisi esai hadir sebagai representasi Weltliteratur, sebuah sastra dunia yang memungkinkan warga global menikmati reproduksi teks lintas benua tanpa kehilangan otentisitas lokal.

Sastra dunia tidak lagi harus tunduk pada satu pusat pengakuan bahkan imperialisme bahasa; ia bisa tumbuh dari banyak simpul, ragam bahasa dan budaya, dari Asia Tenggara hingga Afrika, dari Amerika Latin hingga Eurasia.

Tanpa Nobel, BRICS pun jadi. Sastra dunia tidak kehilangan legitimasi hanya karena Nobel tidak lagi dijadikan acuan.

Justru dengan hadirnya penghargaan alternatif, dunia sastra memperoleh ruang baru untuk menegaskan keragaman dan kekhasan.

Puisi esai, dengan reproduksi teksnya yang melintas benua, menjadi bukti bahwa sastra dapat hidup, berkembang, dan diakui tanpa harus menunggu legitimasi dari satu lembaga penghargaan.

Weltliteratur sebagai interkulturelle Literatur, kini bukan lagi mimpi Goethe pada abad-18 semata — Ich bin Archadian — melainkan kenyataan yang bisa dinikmati warga sastra dunia melalui teks-teks yang lahir dari berbagai tradisi, termasuk puisi esai Indonesia, besutan Denny JA.

Dengan kata lain, BRICS Literary Innovation Award 2025 telah menjadi — melalui prestasi genre sastra puisi esai Denny JA — satu legasi kebudayaan kita dan global. (*)

#coverlagu: „Puisi Pengantar“ karya Panji Sakti (49) dirilis pada 23 Februari 2024. Maknanya, menekankan puisi sebagai pintu masuk menuju pengalaman batin, refleksi sosial, dan ekspresi musikal yang menghubungkan sastra dengan kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait