HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Terima Kasih, Pak

November 26, 2025 19:21
IMG_20251126_183422

Farid Mustofa | Penulis

HATIPENA.COM – November adalah Hari Ayah Nasional. Meski sudah 20 tahun ditetapkan tidak banyak yang tidak tahu atau peduli. Tidak ada upacara. Tidak ada ucapan atau bingkisan. Di sebagian keluarga sudah tapi tidak banyak.

Beda dengan Hari Ibu yang full perayaan. Iklan-iklan emansipasi dan motivasi mengharukan sampai sekolah menyuruh murid-murid bikin puisi. Mirip hari Kartini.

Masalahnya bukan ada atau tidaknya perayaan. Tapi anggapan kasih sayang harus lembut dan halus seperti sosok ibu. Ayah, karena pencari nafkah tak cocok terlihat lembut apalagi manja. Ayah harus tampak kuat perkasa. Dari cara pandanglah itu muncul kesan sosok ayah tidak perlu dirayakan.

Dalam Islam menghormati orang tua setara. Istilah Al-Qur’an birrul walidain, berbakti kedua orang tua, bukan hanya ibu. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu” (QS Lukman 14). Tidak ada pemisahan.

Hadis Nabi yang menyebut ibu tiga kali dan ayah sekali sering untuk menomorduakan ayah. Pemahaman ini keliru. Hadis 3:1 merujuk beban biologis ibu ketika hamil, melahirkan, dan menyusui. Hadis ini mengakui penderitaan fisik ibu, bukan menghapus tanggung jawab dan kemuliaan ayah.

Islam menempatkan ayah qawwam, pemimpin keluarga. Tugasnya mencari uang dan memastikan keluarganya beriman. Tapi di masyarakat modern, peran ini direduksi menjadi “tukang bayar.” Kalau anak berhasil siapa ibunya. Kalau gagal salah bapaknya.

Nabi Muhammad contoh terbaik. Bukan ayah keras kaku, tapi penuh kasih dan berprinsip. Nabi mencium anak-anaknya, menangis ketika putranya wafat, dan tetap memimpin keluarganya. Tidak ada dikotomi.

Hari ini ayah dituntut hadir, tegas, tidak cengeng, dan kuat secara ekonomi. Begitu goyah, langsung diberi label “toxic masculinity.” Terlalu keras salah. Terlalu lembut juga salah.

Ironisnya, penceramah agama ikut mendukung ketimpangan. Kalau temanya keluarga yang banyak dibahas peran ibu. Ayah hanya bagian finansial atau kerja. Seakan kasih sayang tidak termasuk tugasnya.

Padahal banyak anak tumbuh di atas peran ayah meski kadang tidak tahu siapa yang menjual motor demi kuliah dan pura-pura kuat saat dipecat.
Budaya publik pun ikut menyudutkan. Ayah digambarkan kaku, otoriter, bukan manusia yang punya tanggung jawab dan perasaan.

Jangan bicara kesetaraan jika ayah hilang dari narasi kasih sayang, sementara sistem tetap menuntutnya jadi tulang punggung. Menghargai ayah bukan patriarki. Ini perintah agama. Jika kita bisa membuat puisi untuk ibu, satu kalimat penghargaan untuk ayah pun sudah layak.
Makanya Hari Ayah tidak perlu jadi seremoni tetapi tetap jangan diabaikan. (*)