Rosadi Jamani | Penulis
Ketua Satupena Kalbar
HATIPENA.COM – Lawan Brasil, siapa pun ngeri. Honduras saja dibantai tujuh gol tanpa sempat bersin. Kini, giliran Indonesia yang baru pertama kali mencicipi aroma Piala Dunia U-17. Di atas kertas, Garuda Muda bukan underdog, kita bahkan di bawahnya. Kalau peringkat dunia punya ruang bawah tanah, di sanalah nama Indonesia sedang berjuang keluar, dengan sandal jepit dan semangat yang tak mau mati.
“Koptagul mana, Bang?”
“Maaf, wak, hampir lupa. Kita lanjutkan dengan cairan hitam pekat nan pahit.”
Lanjut ya. Namun, seperti kata pelatih Nova Arianto, bola itu bundar, dan mukjizat sering muncul di antara keringat dan doa. Ia meminta anak-anaknya jangan keder menghadapi Brasil. “Mereka memang kuat, tapi kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di sepak bola,” katanya di Doha, Kamis malam. Sebuah kalimat yang sederhana, tapi di dada pemain muda yang menatap lambang Garuda, itu terdengar seperti perintah perang.
Brasil datang dengan tubuh yang dipahat dari samba dan sinar Copacabana. Sementara anak-anak kita tumbuh di lapangan becek, bola plastik yang sudah kempes, dan semangat dari doa emak-emak di rumah. Kalau Brasil bermain karena tradisi, kita bermain karena harapan. Karena bagi mereka sepak bola adalah budaya, tapi bagi kita, sepak bola adalah perjuangan untuk dianggap ada.
Seperti ingin memberi penghiburan di tengah kegelisahan nasional, Persib Bandung menumbangkan Selangor FC 3-2 di dalam laga AFC Champions League Two pada 6 November 2025 di Stadion MBPJ, Petaling Jaya. Sebuah kemenangan kecil tapi manis, pengingat bahwa bola bisa berpihak kepada siapa saja yang berani. Seolah semesta berbisik ke para pemain muda di Qatar, “Lihatlah, tak ada yang mustahil bagi yang tak gentar.”
Ironisnya, laga-laga Timnas U-17 di Piala Dunia ini tak satu pun disiarkan televisi nasional. Di negeri yang katanya gila bola, Garuda Muda seperti anak tiri di rumah sendiri. Televisi lebih sibuk menayangkan konten tak bergizi, gosip murahan, reality show pesanan, dan sinetron yang lebih absurd dari politik dalam negeri. Anak bangsa sedang berjuang di panggung dunia, tapi bangsanya sibuk menonton adegan tangisan buatan di layar kaca.
Lucu, ya? Kita menuntut pemain berjuang demi merah putih. Sementara kita sendiri tak peduli memperjuangkan hak mereka untuk disaksikan. Tapi tak apa. Televisi boleh tuli dan buta, tapi mata rakyat masih terbuka. Kami menonton lewat layar kecil, lewat streaming yang tersendat, dengan doa yang tak pernah padam.
Bahkan jika nanti hasilnya pahit, biarlah keringat itu jadi puisi. Karena bangsa ini sudah terlalu sering diajari kalah dengan elegan, kini saatnya kalah dengan perlawanan. Kalah dengan kepala tegak, bukan menunduk minta maaf.
Seperti pesan khatib Jumat di Masjid al Wahid dekat rumah tadi, “Istiqamahlah dalam berjuang, sebab kemenangan bukan soal hasil, tapi soal kesetiaanmu di jalan itu.” Maka kepada Zahaby Gholy dan kawan-kawan, teruslah berlari. Meski napas sesak, teruslah berdiri. Karena istiqamah itulah yang membedakan antara mereka yang menyerah, dengan mereka yang lahir untuk menolak kalah.
Mungkin Brasil akan menang, mungkin kita akan kalah. Tapi bangsa ini tak akan runtuh hanya karena skor. Sebab Garuda tak terbang karena sayapnya kuat, tapi karena semangatnya menolak jatuh.
Karena sepak bola, seperti hidup, bukan soal siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling berani melawan takdir.
Siapkan Koptagul, kita nobar pakai streaming malam ini pukul 22.45 WIB, live di FIFA+ (*)
#camanewak
Foto Ai hanya ilustrasi