Nurul Jannah | Penulis
Ketika Kota Pempek Menyajikan Cinta Lewat Jalan-Jalannya
HATIPENA.COM – Perjalanan kali ini membuat aku merasa istimewa. Bukan hanya karena panorama yang lewat di jendela mobil, jembatan-jembatan megah, museum, atau kulinernya, melainkan juga karena kebaikan orang-orang yang menemaniku sejak pagi hingga matahari tenggelam di Musi.
Hari itu, Palembang bukan hanya kota biasa. Ia berubah menjadi ruang hati yang menyambut, merawat, dan membuatku bahagia tanpa jeda.
Keluarga kecil Mbak Shinta, dengan Pak Candra yang tenang, dan Syifa yang manis telah menjadikan satu hari di Palembang terasa begitu indah. Unforgettable. Mereka bertiga seperti palet warna yang melukis hariku. Palembang dengan sungainya yang wangi, manusianya yang tulus, dan makanannya yang membuat lidah terus bersujud syukur.
Dari pukul tujuh pagi hingga senja merayap lembut di atas Sungai Musi, kami berkeliling kota. Dari sana aku seakan menemukan chapter baru, yang sarat makna.
Sarapan Mie Celor: Pelukan Pertama Kota Palembang
Hari dimulai dengan aroma santan yang lembut dan kuah putih keemasan yang mengepul manis.
Begitu mie celor terhidang, Mata Syifa nampak berbinar bahagia.
“Waah, haruum. Kayaknya enak banget ya!”, seruku spontan.
Sambil tertawa riang, mbak Shinta menambahkan: “Ini pakai kaldu udang asli.Signature-nya Palembang!”
Pak Candra ikut menyahut dengan gaya kalemnya yang khas. “Kalau belum makan mie celor… belum sah menginjak Palembang.”
Setiap suapan terasa seperti ucapan selamat datang dari kota Palembang. Terasa hangat, halus, dan penuh cinta.
Situs Sriwijaya, Menyusuri Jejak Besar di Tanah Sunyi
Kami melanjutkan perjalanan ke Situs Sriwijaya. Anginnya lembut, rumputnya halus, dan suasananya seakan menahan napas.
Mbak Shinta menjelaskan sambil berjalan pelan, “Dulu di sini pusat kerajaan maritim terbesar, Bu. Kapal-kapal besar itu berlabuh persis di tepian ini.”
Sementara itu Syifa sibuk mengambil foto, dari gaya tubuhnya aku tahu: “Ia sedang membangun kebanggaan sebagai warga Palembang.”
Masuk ke museum, suasana berubah hening dan khidmat. Sejarah terasa hidup dan menatap kami dari balik kaca.
Mbak Shinta berbisik serius, “Bu Nurul… kalau zaman Sriwijaya kita hidup di sini, kira-kira kita jadi apa ya? Putri? Atau menteri?”
Tawaku pecah keras: “Putri boleh. Menteri jangan! Nanti sejarahnya hancur di tangan kita!”
Al-Qur’an Raksasa, Ruang yang Membuat Hati Merunduk
Begitu kaki melangkah ke ruang Al-Qur’an raksasa, hangat dadaku langsung turun perlahan. Ayat-ayat besar itu seperti memeluk jiwa yang masih mencari arah.
Mbak Shinta berbisik lirih:
“Bu, merinding rasanya…”
Aku menjawab pelan, menyentuh lengannya, “Karena kadang bukan kita yang membaca ayat itu…tapi ayat itu yang sedang membaca kita.”
Damai. Teduh.
Menggetarkan sampai ke dasar hati.
Martabak HAR, Lumer di Lidah, Pecah di Hati
Menjelang siang, kami menuju Martabak HAR. Suapan pertama membuat kami saling pandang penuh takjub.
“Masya Allah… ini ENAKNYA kebangetan!” seruku spontan.
Mbak Shinta menimpali cepat, “Ini memang cinta pertama warga Palembang.”
Rempahnya meledak halus, karinya hangat, dan bahagia kami pecah seperti kembang api kecil di lidah.
Riverside, Lagu Lama Sungai Musi yang Tak Pernah Diam
Setelah lunch di Riverside resto, kami menyusuri sungai Musi. Angin Sungai terasa menyapa lembut. Kapal-kapal nampak bergerak perlahan, dan matahari siang itu terasa sangat bersahabat.
Syifa nampak sibuk mengambil selfie, mengabadikan semua momen indah kami di sana.
Mbak Shinta tiba-tiba berbisik: “Kok rasanya sungai ini kayak ngajak ngobrol ya?”
Aku tersenyum, “Sungai memang begitu… sepertinya diam tapi sebenarnya menyimpan banyak cerita yang ingin disampaikan.”
Dan hanya Sungai Musi yang bisa membuat kami betah berdiri begitu lama di sana, menatap airnya.
Mampir di Vico, Mpek-mpek legend dan Es Kacang Merah Paling Nikmat Sedunia
Perjalanan ditutup dengan es kacang merah ala Vico. Tentu saja ditemani pasangan sejatinya: pempek Vico yang melegenda.
Esnya lembut, kacang merahnya manis, susu kentalnya menyatu halus, dan tawa Syifa membuat semuanya terasa sempurna.
“Ini best dessert sebelum meninggalkan kota mpek-mpek!” seruku penuh bahagia.
Mbak Shinta langsung menimpali, “Harus kita ulang lagi, Wajib!”
Aku menatap mereka bertiga. Rasa haru mengalir tanpa bisa dihentikan. Hari itu adalah perjalanan yang menghadirkan keluarga bukan dari garis nasab, tetapi dari ketulusan yang tidak dibuat-buat. Masya Allah.
Senja yang Menutup Hari
Ketika mobil berhenti di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, senja mulai merayap di langit Palembang. Dari sana aku sadar satu hal; bahwa hari itu aku bukan hanya mengunjungi Kota Pempek, melainkan masuk ke sebuah ruang bernama kebaikan, keramahan, dan ketulusan.
Dan, keluarga Mbak Shinta membersamaiku bukan lagi sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari hati mereka.
Aku pulang bukan hanya membawa oleh-oleh, tapi juga doa yang kutitipkan diam-diam, “Ya Allah, lipatgandakanlah kebahagiaan keluarga kecil Mbak Shinta, sebagaimana mereka telah melipatgandakan bahagiaku hari ini.”
Karena pada akhirnya, perjalanan paling berharga adalah yang membuat kita menemukan hati kita kembali. (*)
Bogor, 10 November 2025