HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

UAS-nya Membuat Novel

November 12, 2025 17:44
IMG-20251112-WA0051(1)

Rosadi Jamani | Penulis
Ketua Satupena Kalbar

HATIPENA.COM – Tulisan kali ini ringan. Tentu tak seberat utang negara. Cerita mencerdaskan anak bangsa. Simak narasinya sambil seruput kopi sedikit gula aren, wak!

Pagi tadi saya kembali ke kampus. Udara masih lembap, semangat masih hangat. Di tangan saya bukan lembar soal, melainkan panduan menulis novel. Ya, hari ini saya tidak datang untuk menguji hafalan teori, tapi untuk menyalakan api kecil di kepala para mahasiswa, api imajinasi.

Saya berdiri di depan kelas, menatap wajah-wajah muda yang separuhnya masih percaya tugas kuliah hanya dua jenis, yang bisa disalin dari internet dan yang bisa ditunda sampai besok. Lalu saya katakan dengan tenang tapi pasti, “Ujian akhir kalian nanti adalah… membuat novel.”

Kelas seketika hening. Satu dua pasang mata membulat, sisanya menatap layar ponsel seperti mencari tombol skip challenge. Tapi saya tahu, di balik kebingungan itu ada sesuatu yang lama tak disentuh, keberanian untuk mencoba.

Saya jelaskan langkah-langkahnya, mulai dari menentukan ide, membangun karakter, hingga menulis draf pertama. “Jangan takut,” kata saya, “Novel bukan karya orang jenius, tapi karya orang yang sabar menulis meski belum tahu kapan tamat.”

Menulis novel bukan sekadar mengarang kisah, tapi menulis ulang hidup sendiri dalam bentuk cerita. Setiap mahasiswa punya kisah masing-masing. Ada yang kuliah sambil kerja malam, ada yang berjualan es tebu demi bayar UKT, ada pula yang menabung mimpi untuk kuliah ke luar negeri. Semua itu bahan mentah kehidupan, tinggal diolah menjadi karya.

“Kalau hidup kalian saja sudah penuh konflik dan drama,” lanjut saya, “berarti bahan novelnya sudah lengkap. Tinggal ditulis.”

Beberapa tersenyum malu. Ada yang mulai mencatat, ada yang merenung. Mungkin baru kali ini mereka benar-benar diajak menulis bukan karena nilai, tapi karena makna.

Saya tekankan, tulislah apa yang kamu tahu, rasakan, dan yakini. Tak perlu kisah superhero penyelamat dunia. Cukup tulis perjuangan kalian menyelamatkan semangat sendiri di tengah tumpukan tugas dan tuntutan hidup. Karena novel terbaik bukan tentang pahlawan besar, tapi tentang manusia biasa yang tak menyerah.

Saya minta mereka langsung menulis. Awalnya kaku, tapi perlahan mencair. Saya bilang, “Tak perlu sempurna, yang penting selesai. Dunia ini penuh orang pintar yang tak pernah memulai, dan sedikit orang berani yang mau menyelesaikan.”

Sampai kuliah berakhir, belum ada yang rampung. Tapi mereka sudah memulai. Minggu depan lanjut lagi. Puncaknya, UAS mereka nanti adalah sebuah karya novel yang akan diterbitkan secara digital dan dipasarkan lewat marketplace. Novel yang lahir dari pergulatan pikiran, bukan sekadar tugas yang selesai di meja ujian.

Saat semua mulai menulis, kelas itu berubah. Tak lagi bising oleh keluhan, tapi oleh bunyi klik-klik keyboard. Mereka menulis kisah cinta, kehilangan, perjuangan, bahkan kisah lucu tentang dosen yang menyuruh menulis novel di tengah jadwal ujian. Tapi saya tak peduli isinya, yang penting, mereka menulis. Mereka berani.

Di mata mereka mulai tampak sesuatu yang tak bisa saya nilai dengan angka, kebanggaan. Mungkin baru kali ini mereka merasa, karya tangan dan pikiran mereka punya arti.

Bagi saya, UAS nanti ini bukan tentang nilai A, B, atau C. Ini tentang keberanian menulis di tengah kebimbangan hidup. Tentang mahasiswa yang mulai percaya bahwa kata-kata bisa mengubah arah takdir.

Siapa tahu, suatu hari nanti dari kampus sederhana ini lahir seorang penulis besar yang berkata, “Saya dulu belajar menulis bukan di penerbit, tapi di ruang kelas, ketika dosen saya memaksa saya menulis agar saya belajar bermimpi.”

Pagi berkabut di halaman kampus,
Tangan gemetar menulis awal kisah.
Bukan nilai yang jadi fokus,
Tapi mimpi tumbuh dari lembaran lelah.

Kopi diseruput sambil tersenyum,
Huruf demi huruf jadi jembatan.
Menulis novel bukan sekadar boom,
Tapi cara kecil menantang kehidupan. (*)

#camanewak

Foto Ai hanya ilustrasi