HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

UNU Kalbar Didatangi Diplomat Amerika Serikat

November 23, 2025 09:00
IMG-20251123-WA0034

Rosadi Jamani | Penulis
Ketua Satupena Kalbar

HATIPENA.COM – Lupakan sebentar persoalan PBNU. Biarkan para pentinggi menyelesaikan persoalannya sendiri. Kali ini kita berkunjung ke kampus UNU Kalbar. Semenjak dinakhodani rektor baru, Prof Dr Arief Sukino, UNU langsung dilirik oleh Amerika Serikat. Diplomat negeri Paman Sam itu langsung datang ke kampus UNU Kalbar. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

“Syukurlah diplomat Amerika yang berkunjung. Kalau diplomat Israel, waduh bisa geger Bumi Khatuliswa, Bang.”

“Wus, ente nyingung-nyinggun Israel pula. Udah pesan Koptagul, nanti saya bayar.” Ups.

Pada pagi 21 November 2025 itu, kampus UNU Kalbar tidak hanya bangun, ia seperti baru saja disiram air Sungai Kapuas saat pasang besar. Tiba-tiba segar, tiba-tiba hidup, tiba-tiba ramai seperti pasar Flamboyan hari Sabtu. Soalnya hari itu bukan sembarang agenda, Kedutaan Besar Amerika Serikat benar-benar datang, bukan lewat Zoom, bukan lewat poster, tapi datang betulan ke Aula UNU Kalbar.

Awalnya cuma surat resmi dari John T. Slover, sang Public Diplomacy Officer, dikirim 17 November 2025. Bahasanya sopan sekali, seperti orang ngetuk pintu rumah pakai sarung tangan beludru. Intinya mereka minta izin datang tanggal 21, pukul 08.30 sampai 10.30, mau ngobrol dengan mahasiswa dan dosen tentang peluang pendidikan di Amerika. Suratnya rapi, enak dibaca, dan terasa seperti undangan makan malam tapi versi diplomatik.

Begitu hari H datang, suasana kampus berubah seperti penyambutan tamu adat, tapi tanpa gong dan tarian, hanya semangat yang tidak kalah heboh. Rektor Prof Dr Arief Sukino M Ag, para Wakil Rektor, Dekan, sampai Ketua Prodi kompak turun tangan. Lengkap, seperti opor ayam yang tidak ada satu pun bahan yang ketinggalan. Slover datang bersama Oki Mustopa, si Emerging Voices Exchange Assistant, namanya saja sudah seperti angin segar yang berhembus di ladang kelapa sawit. Seluruh acara berlangsung di Aula UNU Kalbar, yang pagi itu berubah menjadi ruangan paling internasional di Kubu Raya.

Lima puluh mahasiswa pilihan dari tiap prodi duduk manis. Ada yang deg-degan seperti menunggu kiriman uang dari kampung, ada yang wajahnya bercahaya seperti baru habis mandi di Sungai Sambas saat pagi-pagi, dan ada pula yang mencatat setiap kata seperti sedang berpikir, “habis kuliah, ngafe di mana ni.”

Ketika Slover mulai berbicara soal beasiswa, kuliah di Amerika, dan peluang kerja sama, suasana aula mendadak seperti ombak Sungai Landak yang datang berturut-turut, tenang, kemudian besar, kemudian makin besar. Kata “scholarship” saja sudah bikin beberapa mahasiswa tiba-tiba duduk tegap, seperti baru disetrum semangat. Ada yang matanya berbinar seperti melihat durian Jemongko dibuka, ada yang tampak sedang membayangkan diri kuliah di kampus keren sambil memegang kopi Koptagul di tangan kiri dan jurnal Scopus di tangan kanan.

Acara ini sebenarnya lebih dari sekadar “kunjungan tamu penting”. Ia seperti pembukaan jalur air baru, mirip ketika parit dibuat lebih dalam agar perahu motor bisa lewat. UNU Kalbar sedang menggali akses internasionalnya, memperluas jaringan, dan menyiapkan mahasiswa bukan hanya untuk bersaing di Kalbar, tapi di dunia.

Yang paling membuat hati panas dingin adalah ketika Slover menjelaskan, kerja sama ini bisa berkembang. Ada potensi pertukaran pelajar, riset bareng, sampai kesempatan pengembangan program internasional. Dari tempat duduk paling belakang terdengar napas panjang seseorang, semacam napas orang yang baru sadar, “Eh, dunia itu luas sekali ya, bukan cuma dari Pontianak ke Putussibau.”

Kalau diibaratkan, hari itu seperti hulu dan hilir bertemu. Kampus yang letaknya di Kubu Raya menjalin hubungan langsung dengan Kedutaan AS. Jarak geografis jauh, tetapi jarak peluang tiba-tiba jadi dekat sekali. Mahasiswa mendapat angin segar, dosen mendapat motivasi baru, dan kampus mendapat jembatan emas menuju dunia.

Kalau pembaca merasa merinding, santai saja. Itu bukan mistik, bukan angin lewat, tapi efek domino dari satu kenyataan ini, UNU Kalbar tidak lagi hanya berdiri di tanah Kalbar, ia kini menjejak di peta global. (*)

#camanewak

Berita Terkait