HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Zohran Menunggu Pengumuman Resmi Terpilih Walikota New York

November 5, 2025 06:31
IMG-20251105-WA0014

Rosadi Jamani | Penulis
Ketua Satupena Kalbar

HATIPENA.COM – Kalau di kita, hasil survei biasanya tak meleset. Tak tahu di New York sana. Hasil jajak pendapat, Zohran unggul. Cuma, hasil pengumuman resmi, belum. Nah, apakah Zohran akan mencetak sejarah baru, Muslim pertama jadi Walikota New York, kita tunggu hasilnya sambil seruput Koptagul, wak!

Pada 4 November kemarin, warga New York City, nyoblos. Hasilnya diperkirakan hari ini atau esok keluar. Semua pada berdebar menunggu siapa yang menang.

Sambil menunggu sang pemenang, tapi hasil jajak pendapat sudah keluar dan bikin geger. Zohran, anak muda sosialis dari Queens, unggul telak. 45,8% suara dalam survei terakhir, meninggalkan Andrew Cuomo yang comeback seperti karakter sinetron yang lupa dia sudah mati di episode sebelumnya. Curtis Sliwa? Masih pakai jaket merah dan nostalgia 1980-an, tapi suara cuma 17,3%. Sisanya? Eric Adams, sang petahana, memutuskan mundur tapi tetap muncul di surat suara seperti cameo yang tak diundang.

Tapi ini bukan sekadar pemilu. Ini adalah pertarungan ideologi, konspirasi tingkat federal, dan drama politik yang layak difilmkan oleh HBO, disutradarai oleh Bong Joon-ho. Zohran bukan hanya bicara soal bus gratis dan pembekuan sewa apartemen. Ia bicara soal keadilan, akses publik, dan mengganti sistem yang sudah lama melayani segelintir orang dengan sistem yang melayani semua. Itu, tentu saja, membuat para pemilik penthouse di Manhattan mulai cari tiket ke Florida.

Masuklah Donald Trump, Presiden yang tak pernah kehabisan ancaman. Ia bilang, kalau Zohran menang, dana federal untuk New York akan dibekukan. Seolah kota ini adalah anak nakal yang perlu dihukum karena berani berpikir beda. Siapa yang ia dukung? Andrew Cuomo, mantan gubernur yang dulu mundur karena skandal, kini muncul lagi dengan semangat “Saya belum selesai.” Dukungan Trump ke Cuomo adalah plot twist yang bahkan penulis naskah House of Cards akan bilang, “Agak lebay, bro.”

Sementara itu, rakyat New York? Mereka sudah bosan jadi latar belakang sandiwara elite. Mereka ingin pemimpin yang bicara jujur, bukan yang bicara dengan konsultan PR di telinga. Mereka ingin Zohran. Sosok yang tak punya warisan politik, tapi punya visi. Yang tak punya koneksi korporat, tapi punya koneksi emosional dengan rakyat.

Meski hasil resmi belum keluar, satu hal sudah pasti, Zohran sudah menang di hati mereka yang lelah dengan kompromi setengah hati dan janji setengah matang. Ia adalah simbol dari generasi yang tak takut pada ancaman, tak tunduk pada nostalgia, dan tak tertarik pada politik basa-basi.

So, kalau ada yang bilang Zohran belum menang, kita jawab, “Belum menang di angka, tapi sudah menang di narasi, di harapan, dan di mimpi mereka yang ingin kota ini bangun dari tidur panjangnya.”

New York sedang menulis bab baru. Zohran Mamdani adalah kalimat pembuka yang tak bisa dihapus.

Kemenangan, atau bahkan sekadar keunggulan dalam jajak pendapat, Zohran Mamdani bukan hanya soal politik elektoral, tapi tentang keberanian untuk membayangkan kota yang lebih adil. Di tengah gempuran ancaman dari pusat kekuasaan dan kembalinya tokoh-tokoh lama yang enggan pensiun, muncul seorang anak muda yang membawa gagasan radikal, bahwa kota bisa dijalankan bukan demi laba, tapi demi warganya. Pesan moralnya jelas, perubahan tidak datang dari mereka yang nyaman, tapi dari mereka yang berani mengguncang kenyamanan itu.

Lebih dari sekadar kontestasi jabatan, ini adalah pelajaran tentang bagaimana harapan bisa menjadi kekuatan politik yang nyata. Ketika institusi mencoba menakut-nakuti dengan ancaman dana, rakyat justru merapat pada suara yang jujur. Zohran mengingatkan kita, politik bukan hanya soal menang, tapi soal siapa yang berani bicara kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu dianggap “terlalu kiri,” “terlalu muda,” atau “terlalu berbahaya.” Dalam dunia yang sering kali sinis, keberanian untuk bermimpi adalah bentuk perlawanan paling elegan. (*)

#camanewak

Foto AI hanya ilustrasi