Agam, Hatipena — Seorang warganet mengunggah rekaman video di platform media sosial, yang menyuarakan bahwa sudah tujuh hari Jorong Ranah di Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, terputus dari dunia luar.
Dengan mata berlinang, ia menceritakan bencana longsor dan jembatan amblas yang melanda wilayah itu membuat 1.200 jiwa dari 371 kepala keluarga masih harus bertahan dalam kondisi serba kekurangan—mulai dari pangan, air bersih, hingga tempat tinggal. Bahkan listrik pun padam, jaringan telepon putus, dan internet tak ada sinyal. Di antara mereka terdapat bayi, anak-anak, serta lansia yang kondisinya makin mengkhawatirkan.
Selama beberapa hari terakhir, warga menerima kenyataan pahit: sejumlah bantuan hasil penggalangan dana masyarakat ternyata belum berhasil menjangkau desa mereka. Kondisi itu dapat dipahami karena di wilayah Nagari Sungai Landia juga terdapat beberapa desa lain yang terdampak cukup parah sehingga pembagian bantuan harus melalui skala prioritas.
Namun berbeda dengan desa-desa lain, akses menuju Jorong Ranah benar-benar terputus. Jembatan utama roboh, sementara jalan alternatif ditimbun material longsor. Warga sudah bergotong-royong siang dan malam membersihkan jalur yang mungkin dilewati, tetapi runtuhan besar membuat upaya itu mustahil dilakukan tanpa alat berat.
Akibatnya, bantuan yang dikumpulkan dalam dua hingga tiga hari terakhir hanya bisa disalurkan secara estafet melalui jalur kaki sejauh sekitar lima kilometer menuju desa tersebut. Kondisi ini membuat proses distribusi bantuan berjalan lambat dan tidak sebanding dengan kebutuhan warga yang semakin mendesak.
“Kami mohon kepada para pemangku kebijakan dan pihak yang bertanggung jawab atas penyaluran logistik maupun tanggap bencana Kabupaten Agam, tolong jangan lupakan bahwa ada sebuah desa cantik di ujung Kenagarian Sungai Landia yang sekarang sedang krisis pangan,” demikian harapan warga yang disampaikan melalui media sosial.
Mereka juga mengungkapkan bahwa bantuan dari Presiden RI Prabowo Subianto yang disebut telah tiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dua hari lalu, hingga Senin (1/12/2025) belum juga sampai ke lokasi.
“Kami hanya bisa meminta tolong lewat suara di media sosial. Kami ingin semua tahu bahwa ada 1.200 jiwa di Jorong Ranah yang sekarang sedang kelaparan,” ujar netizen cantik ini.
Jorong Ranah, yang biasanya dikenal sebagai kawasan indah yang dikelilingi bukit dan aliran sungai, kini berubah total setelah bencana datang. Warga berharap perhatian pemerintah dapat segera mengalir, sehingga akses darurat bisa dibuka dan bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan lagi. (*)