HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

“Purnama dari Timur” Hidupkan Cinta dan Perdamaian Lewat Seni

November 10, 2025 19:21
IMG-20251110-WA0080

Festival Komunitas 2025

Jakarta Timur, Hatipena – Di bawah langit senja Pondok Kelapa, Jakarta Timur, denting musik dan tawa anak-anak muda berpadu dengan lantunan puisi yang mengalun lembut. Suasana PPSB Kisam Djiun sore itu berubah menjadi ruang kebersamaan tempat seni dan cinta tumbuh berdampingan.

Festival Komunitas 2025 bertajuk “Purnama dari Timur: Cinta dan Perdamaian” menjadi momentum pertemuan antara pemerintah, seniman, dan komunitas budaya, pada Rabu (5 November 2025), pukul 15.00 hingga 20.00 WIB.

Festival ini diinisiasi oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Simpul Seni, dan Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Timur, dengan dukungan puluhan komunitas seni lintas bidang.

Ragam pertunjukan menghidupkan halaman PPSB — mulai dari musikalisis puisi, teaterikal, parade puisi, dongeng, mural, tari, hingga pertunjukan angklung dan perkusi. Komunitas yang turut hadir antara lain Forum TBM Aksara Timur, Teater Al Kautsar, Teater Moksa, Komunitas Mural Jakarta Timur, Rumah Baca Ceria, Komunitas Kampung Dongeng, Forum TBM Jakarta Timur, dan Komunitas Sastra Jakarta Timur.

Ekosistem Budaya yang Tumbuh dari Timur

Dalam sambutannya, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur, Barkah Sadaya, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan komunitas dalam menjaga ekosistem budaya di wilayah timur Jakarta.

“Kami sangat senang gedung dan fasilitas yang kami kelola dimanfaatkan oleh komunitas. Pemerintah berusaha memfasilitasi, bukan hanya menunggu karya besar, tapi mendukung setiap langkah kecil yang nyata. Di Jakarta Timur ada lebih dari 300 komunitas seni yang menjadi denyut kehidupan kebudayaan kita,” katanya.

Sejak 2023, Sudin Kebudayaan Jakarta Timur telah melakukan peremajaan infrastruktur pendukung kegiatan seni. Tahun ini, sekitar Rp200 juta dialokasikan untuk pembaruan tata suara dan pencahayaan agar ruang-ruang kreatif semakin layak digunakan oleh para pelaku seni lokal.

Komunitas, Jantung yang Menghidupkan Budaya

Diskusi Budaya bertajuk “Peran Komunitas dalam Mempertahankan dan Mengembangkan Budaya” menjadi salah satu segmen yang paling menyita perhatian.
Dipandu oleh Rissa Churria, diskusi ini menghadirkan Arif Akbar dan Mita Katoyo yang berbagi pandangan tentang bagaimana komunitas menjadi benteng sekaligus jembatan kebudayaan.

Arif menekankan peran komunitas sebagai penjaga akar tradisi, sedangkan Mita mengulas strategi adaptasi di era digital yang mampu menjembatani generasi muda agar tetap terhubung dengan seni dan identitas lokal.
Diskusi berlangsung cair dan penuh refleksi, memperlihatkan bagaimana budaya hidup dari ruang-ruang pertemuan sederhana — tempat orang berbagi ide, nilai, dan semangat.

Pidato Kebudayaan: Merawat Akar, Menumbuhkan Sayap

Nada reflektif juga terasa dalam Pidato Kebudayaan yang disampaikan oleh Ihsan Risfandi berjudul “Merawat Akar, Menumbuhkan Sayap.”
Ihsan mengingatkan bahwa kebudayaan tidak hanya perlu dilestarikan, tapi juga diberi ruang untuk tumbuh mengikuti zaman.

“Budaya adalah ingatan kolektif yang membentuk jati diri bangsa. Ia tumbuh dari cinta, bertahan dari solidaritas, dan hidup dari semangat berbagi,” ujarnya.

Pidato itu menjadi penegas bahwa menjaga budaya adalah kerja kolektif, bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama masyarakat dan pelaku seni.

Seni Sebagai Ruang Perdamaian

Perwakilan Simpul Seni DKJ, Aquino Hayunta, menyampaikan pandangan yang menyentuh: seni tidak harus megah untuk bermakna.

“Kadang yang paling berharga justru pertemuan kecil, diskusi, atau latihan bersama. Melalui seni, anak-anak muda belajar berintegrasi dengan masyarakat, menjauh dari kekerasan, dan menemukan makna cinta serta kedamaian,” katanya.

Kalimat itu seolah menjadi roh festival ini, menjadikan seni sebagai bahasa universal yang merangkul perbedaan dan menumbuhkan kedamaian di tengah hiruk pikuk kota.

Purnama dari Timur, Cahaya yang Tak Padam

Festival Komunitas “Purnama dari Timur” menandai semangat baru bagi wajah kebudayaan Jakarta Timur. Dari ruang baca kecil, panggung sederhana, hingga mural di dinding kampung, denyut seni terus hidup, menyalakan cahaya yang tumbuh dari cinta dan gotong-royong.

Seperti purnama yang bersinar dari timur, festival ini adalah simbol harapan: bahwa budaya akan terus hidup selama masih ada manusia yang mau merawatnya dengan kasih dan kebersamaan. (*)