HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Ananda Sukarlan: Apa Saja Fungsi Kompetisi Musik Klasik?

November 30, 2025 15:20
Ananda Sukarlan bersama para guru piano yang aktif di Yogyakarta, Rachel Nadia (kiri) dan Ananya Laocta (kanan) (Foto: Ist/Dokpri)
Ananda Sukarlan bersama para guru piano yang aktif di Yogyakarta, Rachel Nadia (kiri) dan Ananya Laocta (kanan) (Foto: Ist/Dokpri)

Sebuah Catatan dari KPN + Region Yogyakarta

HATIPENA.COM – Dengan hampir berakhirnya rangkaian Kompetisi Piano Nusantara Plus di kota ke-10 (Yogyakarta) dari 11 kota dengan sukses Sabtu, 29 November kemarin di Sagan Heritage Hotel, kompetisi musik klasik sudah diyakini menjadi bagian penting dari proses belajar dan berkarir para musisi klasik Indonesia, baik yang masih muda di berbagai sekolah musik maupun sudah di tahap kuliah musik seperti di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, Padang Panjang dan kota lain. Ini berlaku untuk semua instrumen, dan juga vokal klasik khususnya tembang puitik.

Sejak tahun 2024 KPN+ “naik kelas” karena kerjasama dengan Ananda Sukarlan Award (ASA), dimana Ananda memberikan Golden Ticket kepada sejumlah pemenang KPN+ untuk langsung masuk babak final di ASA tahun berikutnya. Juli 2025 lalu beberapa pemenang KPN+ telah membuktikan prestasinya di ASA, seperti pianis Reynard Jeremy Chandra (Bandung), Jeane Halim (Medan), vokalis Ratnaganadi Paramita dan Wirawan Cuanda (Jakarta) dan soprano Fae Bernice Robin (Palembang).

Pemerintah Perancis melalui Institut Francais d’Indonesie telah mendukung Ananda Sukarlan Award sejak 2014, memberikan beasiswa kepada pemenang untuk mengikuti masterclasses di Perancis.

Kompetisi memainkan peran penting dalam pengembangan dan kemajuan karier musisi klasik muda, menawarkan platform untuk mengasah keterampilan mereka, mendapatkan pengakuan, dan membangun jaringan profesional. Itu sebabnya Ananda berpendapat bahwa sejak usia cukup dini para pelajar musik sudah harus terbiasa mengikuti kompetisi.

Berbincang dengan Ananda Sukarlan setelah acara selesai, sang maestro Indonesia yang telah masuk sebagai salah satu dari 100 “Asia’s Most Influential” atau “Orang Asia Paling Berpengaruh” di dunia seni tahun 2020 oleh Majalah Tatler Asia ini menyatakan bahwa kompetisi sangat penting bagi seniman muda dalam banyak aspek, seperti:

  • Pengembangan Keterampilan dan Pengalaman Pertunjukan: Kompetisi mendorong musisi untuk menyempurnakan kemampuan teknis dan artistik mereka, saat mereka mempersiapkan repertoar yang menantang di bawah tekanan. Proses persiapan yang ketat menumbuhkan disiplin, fokus, dan ketahanan. Tampil di depan juri, penonton, dan rekan sejawat memberikan pengalaman panggung yang tak ternilai, membantu musisi mengatasi kecemasan saat tampil dan mengembangkan kepercayaan diri.
  • Paparan dan Peluang Karier: Memenangkan atau menempati posisi dalam kompetisi bergengsi dapat melambungkan musisi muda menjadi pusat perhatian, menarik perhatian dari agen, konduktor, dan promotor konser. Visibilitas ini sering kali menghasilkan peluang pertunjukan, kontrak rekaman, atau beasiswa. Bahkan mereka yang bukan pemenang mendapat manfaat dari paparan terhadap para profesional industri, karena kompetisi sering kali berfungsi sebagai pusat jaringan tempat para peserta terhubung dengan mentor, guru, dan kolaborator.
  • Umpan Balik dan Pertumbuhan: KPN+ dan ASA selalu dinilai oleh musisi atau pendidik berbakat yang memberikan masukan yang membangun, didampingi oleh Ananda Sukarlan, musisi klasik paling terkemuka dari Indonesia yang telah dianugerahi penghargaan dan pengakuan tertinggi untuk warga sipil dari dua negara : Cavaliere Ordine della Stella d’Italia (dari Presiden Sergio Mattarella) dan Real Ordine de Isabel la Catolica (dari Raja Felipe VI, Spanyol). Para pemenang ASA yang sekarang menjadi juri di KPN+ pun telah menjadi pianis yang diperhitungkan dunia, antara lain gelar Doktor Musik dari Eastman School of Music untuk Dr. Edith Widayani, serta Masters of Music di berbagai institusi prestisius lainnya seperti Randy Ryan (Juilliard di New York dan Peabody School of Music di Baltimore), Anthony Hartono (Sibelius Academy of Music) dan Calvin Abdiel Tambunan (Sydney Conservatorium of Music). Masukan dari juri ini membantu seniman muda mengidentifikasi kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan yang mendorong pertumbuhan artistik. Untuk KPN+ region Yogyakarta, juri muda yang mendampingi Ananda Sukarlan adalah Samuel Kristiawan Tedjawidjaja, kelahiran Malang yang pernah menjadi finalis ASA 2008. Setelah itu ia kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana dan lulus tahun 2012.
    Pada tahun 2014, Samuel melanjutkan pendidikan musiknya dalam bidang piano performance di University of Maryland, College Park dengan beasiswa Fulbright dan lulus pada tahun 2016. Selama di AS, Samuel belajar piano di bawah bimbingan Bradford Gowen dan Artur Aksenov musik kamar dengan Rita Sloan, dan organ pipa dengan Theodore Guerrant.
    Samuel mulai mengajar sebagai dosen di STT Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang sejak tahun 2019.
  • Lingkungan yang kompetitif mendorong musisi untuk membandingkan keterampilan mereka dengan rekan-rekan, memotivasi mereka untuk berjuang demi keunggulan.
  • Kompetisi Piano Nusantara Plus dan ASA memberi pemenang kesempatan untuk belajar dengan guru terkenal atau tampil dengan orkestra bergengsi, yang meningkatkan pendidikan dan pengembangan profesional mereka. Dalam hal ini, para pemenang KPN+ mendapatkan “Golden Ticket” ke Ananda Sukarlan Award, yang berhadiah beasiswa ke luar negeri serta masterclasses dengan para musikus asing yang mengunjungi Indonesia sepanjang tahun.
  • Membangun Ketahanan dan Ketabahan Mental: Kompetisi mengajarkan musisi muda cara menangani situasi bertekanan tinggi, mengatasi penolakan, dan bertahan dalam kekecewaan karena belum meraih kemenangan. Pengalaman ini membangun ketahanan emosional, sifat penting untuk mempertahankan karier di dunia musik klasik yang kompetitif.
  • Pertukaran Budaya dan Seni: Kompetisi Piano Nusantara Plus mempertemukan musisi dari berbagai latar belakang di babak finalnya di Jakarta Desember 2025 nanti, mendorong pertukaran budaya, dan memperkenalkan peserta pada tradisi dan interpretasi musik yang berbeda. Para pemenang pun, setelah “ditempa” di sini akan diuji kemampuan diplomasi budayanya saat mereka menerima beasiswa ke luar negeri baik untuk summercourse maupun kuliah dari ASA. Hal ini memperluas perspektif artistik mereka dan menginspirasi inovasi.

KPN+ Yogyakarta telah berhasil menyeleksi 25 finalis yang berhak ke babak final di Jakarta 13-14 Desember 2025. Dapat dicatat beberapa pemenang yang menonjol, seperti juara pertama kategori vokal klasik (tembang puitik) mezzo soprano Annisa Meiliasari yang menyanyikan “Parafrase Ibu” dari puisi Muhammad Daffa, dan juara kedua soprano Felisia Dian Permata menyanyikan “Dua puisi pendek tentang cinta” dari puisi Rieke Diah Pitaloka. Selain itu gitaris Abimael Hugo Andrean Laksito, memainkan karya “A Hypochondriac at the time of Covid-19” karya Ananda Sukarlan. Ketiganya langsung diundang oleh Ananda untuk konser bersamanya hari Minggu 30 November pk. 17.00, juga di auditorium Sagan Heritage Hotel, Jl. Kartini. Ananda sendiri yang akan mengiringi dua vokalis itu di piano, serta bermain solo. Ini konser pertama Ananda di Yogyakarta setelah pandemi, sehingga ekspektasi dan antusiasme pecinta musik klasik di Yogya cukup tinggi.

Berikut daftar pemenang lengkap KPN+ region Yogyakarta

PIANO :
Usia Dini B:

  • Alka Aksara Bumi – Juara 3
  • ⁠Elena Gracielie Wiryadinata – Juara 3
  • ⁠Stella Abrina Wibowo – Juara 3
  • ⁠Amorea Joyceline Labito – Juara 2
  • ⁠Elina Gracielie Wiryadinata – Juara 1

Usia Dini C:

  • Senandung Melody Gumelar – Juara 2

Pemula B:

  • Aracelyn Kasyavani Yumma Katili – Juara 3
  • ⁠Laurelynn Ivalithya Riadi – Juara 2

Pemula C:

  • Jeconia Satyadarma Bunga – Juara 3
  • ⁠Daniel Joseph Sitanggang – Juara 1

Menengah B:

  • Aliyya Falahhessa – Juara 1

Menengah C:

  • Agastya Kayana Althaf Aryoputra – Juara 3
  • ⁠Benaya Myiesha Katarina – Juara 2
  • ⁠Aria Widiadana Astraatmadja – Juara 1

Lanjutan C:

  • Prapta Dimatteo Pratama – Juara 2
  • ⁠Jorge Amadeo Benavides – Juara 1

Instrumen Violin (Biola) Junior:

  • Eloise Lorraine Zhang – Juara 3
  • ⁠Daniel Joseph Sitanggang – Juara 2

Instrument Violin (Biola) Senior:

  • Khairunnisa Adara Putri Gunawan – Juara 3

Instrument Guitar Senior:

  • Abimael Hugo Andrean Laksito – Juara 2

Non Professional:

  • Karina Larasati – Juara 3
  • ⁠Naima Humaira Rum – Juara 2

Tembang Puitik (Vokal klasik) Senior:

  • Brisanda Lilya Rossa – Juara 3
  • ⁠Felisia Dian Permata – Juara 2
  • ⁠Annisa Meiliasari – Juara 1