Sosok Dewan Pembina PLS
HATIPENA.COM – Semangat untuk melestarikan kembali warisan budaya, khususnya pantun, kembali menyala di Sumatera Barat. Sosok yang penuh semangat yang memberikan support gerakan ini salah satunya adalah Deta Mahendra, yang akrab disapa “Deta adalah Dewan Pembina utama komunitas Penyala Literasi Sumbar dan Dewan Pembina GLN Gareulis. Kehadiran dan dukungan aktifnya menjadi motor penggerak bagi perhelatan akbar, Festival Pantun ASEAN, yang dijadwalkan akan memeriahkan kota Padang pada 16 dan 17 Januari mendatang.
Festival ini merupakan wujud kolaborasi strategis antara Penyala Literasi Sumbar dengan Publishing dan Galeri Sastra dalam membangun peradaban melalui literasi. Ia melihat bahwa di tengah arus globalisasi dan pergeseran budaya, pantun—sebagai khazanah sastra Melayu yang kaya akan nilai dan kearifan lokal—justru terancam terlupakan oleh generasi muda.
“Pantun saat ini sudah mulai ditinggalkan generasi muda. Justru inilah saatnya kita kembali menyemarakkannya,” tegas Deta Mahendra. Baginya, inisiatif seperti Festival Pantun ASEAN bukan sekadar perayaan seni, tetapi sebuah upaya terstruktur untuk merajut kembali koneksi antara generasi muda dengan akar budaya yang mendalam. Literasi, dalam pandangannya, adalah fondasi penting untuk membentuk karakter dan peradaban bangsa yang kuat.
Konsistensi Deta Mahendra dalam dunia literasi tak diragukan lagi. Selain menjadi sosok pembina, ia sendiri adalah seorang penulis produktif dengan tiga karya buku yang telah diterbitkan: Menjadi Kepsek yang Dirindukan, Nawajena, dan Ada Cerita di Ujung Kertas. Karya-karya ini menjadi cerminan dari dedikasi totalnya pada pengembangan potensi literasi.
Jejak langkah prestasi Deta Mahendra turut memperkuat kredibilitasnya sebagai pemimpin gerakan ini. Sebelumnya, ia telah menerima pengakuan bergengsi Anugerah Kepala Sekolah Berprestasi Literasi Nasional dari JB Kreatif Nasional di Jakarta. Capaian terbarunya adalah Juara 3 Kepala Sekolah Transformatif TK Tingkat Provinsi Sumatera Barat yang diraihnya bulan ini.
Kolaborasi dalam Festival Pantun ASEAN ini diharapkan mampu menjadi platform yang menjangkau khalayak yang lebih luas, memberikan panggung bagi para pegiat sastra, dan yang terpenting, menjamin warisan budaya pantun ini dapat diwariskan dengan semarak kepada generasi penerus di kancah regional ASEAN. Deta Mahendra berharap acara ini tidak hanya meriah, tetapi juga memiliki kedalaman visi transformatif yang berkelanjutan. (*)