HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Ampas Serakah di Atas Tumpukan Kayu

December 2, 2025 05:39
IMG-20251202-WA0010

(Menghampiri Sebuah Puisi Esai)

oleh ReO Fiksiwan | Sastrawan

Akibat Slilit Sang Kiyai (1)
Sepiting kayu tetangga
kupakai
untuk mengorek sisa daging
di sela gigi
habis kondangan

Muridnya bermimpi
wajah sang kiyai memerah
persis cahaya api neraka

dan tak sanggup menahan
siksaan lebih dari slilit
yang menyelip di sela gigi

Bukan itu, soalnya, kata kiyai
dalam mimpi
sepiting kayu itu
aku ambil dari pagar bambu
tetangga
tanpa permisi

itu jadinya,
sepiting kayu yang kuambil
tanpa izin
telah menyempitkan kuburanku
dan cahaya neraka lebih panas
dari air 100% derajat pembalakan
dan pembakaran

Lalu, aku melihat gambar-gambar
lebih mengerikan dari kisah
slilit sang kiyai
karna orang-orang
enggan pulang dari kondangan

aku melihat para pejabat
anggota parlemen
para gubernur
para bupati
para walikota
sampai kepala desa

memandang langit tanpa suara
batin mereka tersiksa
oleh keniscayaan kuasa
atas alam
atas fauna dan flora

pesta mereka bak kencana
surga di bawah tumpukan
air bandang
deras menerjang
melumpuhkan seluruh hasrat
yang dipumpun dari istana
kantor menteri
dan gedung parlemen
hingga balai desa

lumat
menelan jutaan satwa
dan hutan-hutan jutaan area
dengan tangis ribuan warga
kehilangan nyawa
harapan
janji
yang culas di ujung kampanye

setelah itu
hasrat lain segera menyerbu
menghimpun kekayaan alam
di saku celana
di brankas
di rekening gendut
di korporasi raksasa
ganas
rakus
dan maha serakah

aku rubuh di antara tubuh-tubuh
mati
atau digerus banjir
tertimbun jutaan glondongan
kayu-kayu hutan
habis dibabat
cinsaw seberat tiga pesawat herkules

tangis itu tiba-tiba hilang
hanya kuburan masal
penuh lumpur
dan eskapator
dengan gerigi lebih tajam
dari bisa kobra

dengusnya meracau
menutup telinga para sekutu
oligarki
negara
dan para pejabat

aku sedikit menggeliat
di antara tubuh mati
di atas tumpukan kayu glondongan
di Aceh dan Sumatra

di atas hati mati
para petinggi negeri
yang mulut dan kulitnya
membengkak bak sariawan

kepedihan itu
bencana ini
kehancuran itu
dan tanda-tanda ini
bukan tulah

ia rasi kualat
dari kebohongan yang ditutupi
dari kebenatan yang disingkir

aku menutup wajahku
bukan malu dan hina
di hadapan kencana istana
dan dunia

aku mau mati
karna malu
sedalam-dalamnya
sederas-derasnya
pada pengirim bencana besar ini

aku malu pada kezalimanku
sendiri
karna tahu
surga manapun
tak pantas menampungku

dan neraka kelak
lebih dahsyat
dan keras
melumat semua ampas
keserakahan
dari bisikan
maut jin dan iblis (*)

(1) Diinspirasi dari buku, Slilit Sang Kiai (1991), Emha Ainun Najib (72).

coverlagu: Lagu “Kemarau” oleh Prambors Band pertama kali dirilis tahun 1978 dalam album Jakarta Jakarta.

Bisa dimaknai sebagai refleksi sosial-ekologis tentang musim kering, kekeringan, banjir dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat, sekaligus metafora tentang kegersangan batin dan keresahan manusia

Berita Terkait