anto narasoma | Sastrawan/ Penyair
ruang kota begitu terbuka. meski pada batasan sepotong topeng, wajah itu pun tersenyum abadi
dan anak-anak pun tertawa
segenap peristiwa politik di sini, adalah badut-badut yang
menawarkan kebijakan
sembari tertawa berkedip mata
maka tarian badut pun
menutup cerita,
karena dari balik kisah ketertawaan yang mencorong lewat topeng-topeng badut,
tumpukan harga diri dipasok ke dalam ikatan uang muka
di ujung jalan kota
kesemarakan cerita pun berbincang banyak
di antara kesibukan
arus lalu lintas
sedangkan para pengamen yang berwajah badut, menyimpan kemiskinan sembari merentangkan telapak tangan
badut-badut di ranah politik, bisnis, dan pemerintahan yang berirama salsa, menumbangkan kebijakan tambang minyak, gas bumi, bauksit, dan timah
sebab,
badut-badut di pemerintahan selalu berirama salsa dalam joget keberhasilan mencuri tumpukan uang rakyat
o, badut-badut di jalan hanya melengkapi cerita rakyat di panggung kehidupan. sebab, sekenario yang membeberkan kisah kehidupan badut-badut jalanan, hanya sepotong lakonan nasib rakyat miskin di negeri yang kaya koruptor (*)
Palembang, 23 November 2025