Oleh : Ombud | Penulis
Aku bertemu Marsinah
di antara jarum-jarum jam yang kehilangan arah.
Tangannya masih berdebu logam,
matanya bening seperti waktu yang menolak berjalan.
“Aku dengar mereka menyebutku pahlawan,” katanya.
Suaranya pelan, seperti bunyi detik
yang nyasar di ruang sidang.
Aku ingin menjawab,
tapi di hadapannya waktu terasa berhenti.
“Lucu, ya,” ujarnya,
“aku dulu membuat waktu,
mengatur jarum agar tetap patuh,
tapi kini namaku dipasang sejajar dengan mereka yang menghentikan detakku.”
Ia tersenyum getir.
“Negerimu pandai memutar jam ke masa lalu,
agar yang bersalah tampak berjasa,
dan yang terbunuh tampak sudah diampuni.”
Kami terdiam lama,
mendengar waktu berderit di antara roda sejarah.
Sebelum pergi,
ia menatapku sebentar.
“Kalau nanti mereka menulis namaku lagi,” katanya,
“tolong pastikan darahku tak menetes di halaman yang sama.”
Lalu ia berjalan menjauh,
meninggalkan bunyi detik yang berat,
seperti jam tua
yang menyesal
karena terus berdetak
di atas kematian yang belum sempat selesai. (*)