Asrul Sani Abu | Penulis
Hujan turun seperti selimut tipis yang menjaga rahasia hati kita.
Di antara bintang yang jauh dan angin berhembus pelan,
ada bisikan halus yang mengatakan bahwa
semua yang kau rasakan malam ini… tidaklah sia-sia.
Kadang cinta tidak datang dalam bentuk pelukan hangat,
tetapi dalam cara Tuhan menenangkan hatimu
di saat kau merasa sendirian.
Kadang kebahagiaan tidak hadir sebagai tawa,
melainkan sebagai rasa hangat
ketika seseorang mengingatmu dalam doa yang tidak kau dengar.
Malam adalah waktu ketika kita belajar mencintai dengan lebih dewasa tanpa perlu tergesa-gesa,
tanpa ingin memiliki,
cukup dengan memahami bahwa
beberapa orang hadir untuk membuat hati kita lebih lapang,
meski mereka tak selalu tinggal bersama.
Jika ada seseorang yang kau rindukan,
biarkan namanya mengalir pelan di dalam doamu.
Tidak perlu kau kejar,
tidak perlu kau paksa.
Biarkan Tuhan yang menuntun langkahnya jika memang ia bagian dari takdirmu.
Cinta yang sejati tidak pernah keras kepala;
ia hanya butuh kata sabar dan ikhlas.
Dan jika hatimu lelah,
dekatkan dirimu pada keheningan sunyinya malam.
Di sana, ada cahaya kecil
yang selalu kembali menerangi walau kau telah padam berkali-kali.
Cahaya itu adalah harapan, dan ia setia menemani jiwa.
Sebelum kau memejamkan mata,
ucapkan perlahan pada dirimu sendiri:
“Aku layak dicintai. Aku berhak sukses dan aku pantas bahagia.
Dan malam ini, aku memilih untuk berdamai dalam diri dan mendekat kepada Ilahi.”
Tidurlah dengan hati yang tenang dan ikhlas.
Semesta mencatat setiap luka yang kau tutup rapat,
dan besok… akan ada sesuatu yang lebih indah menantimu. Percayalah….dan tidurlah dengan rasa bahagia. (*)
Salam dari kota Anging Mammiri, 15 November 2025