Mustiar Ar | Penulis
Di ruang sidang yang dingin
seorang remaja berdiri menahan gemetar.
Bajunya merah, tapi hatinya lebih merah lagi—
tercabik antara cinta dan hukuman.
Ia hanya ingin membela ibunya,
perempuan sederhana yang tiap hari menawar nasib
di pasar yang bising dan kejam.
Lapar, lelah, dan air mata menjadi teman dagangnya.
Ketika tangan preman merampas rezeki
ia bangkit—bukan sebagai pahlawan,
tapi sebagai anak yang tak kuat melihat ibunya
diperas hidup-hidup oleh ketidakadilan.
Namun di sini, di depan palu hakim,
niat sucinya berubah jadi dakwaan.
Wajahnya tegar, tapi matanya menyimpan tanya:
Adakah keadilan turut memihak pada yang lemah?
Ia menatap lurus ke masa depan
yang sementara direnggut delapan tahun lamanya.
Di balik diamnya, ada jerit yang tertahan:
“Jika membela ibu adalah salah
maka biarlah aku salah sebagai anak yang mencintai tanpa syarat. (*)
Meulaboh, 15.11.2025