Oleh Wiwik Hartati
mengalir air mata guru wiyata bakti
betapa panjang menganaksungai penderitaan
bukan menggelegak menyuburkan ladang
tetapi sublim menghilang bersama harapan
jerit mengudara melengking kering
setajam sembilu mengiris kalbu
namun kandas membusuk tergilas takdir
di tong sampah penentu kebijagan
guru wiyata bakti pekerja tak berbayar
mengajar dengan digerogoti perih perut lapar
belum lagi tertindih bogam legam administrasi
tubuh berpeluh jauh dari sentuhan manusiawi
ini persoalan hidup atau mati
guru wiyata bakti bukan budak berperi
lenguh keluh mereka lenyap tersapu waktu
namun di dadanya tumbuh dedikasi guru
derita guru wiyata bakti tak kunjung akhir
letih lelah menyusuri tepi suratan takdir
lidah kelu lirih patah hanya bisa berserah
napas dadanya perlahan memupus nyaris putus asa (*)
***
Semua Menggenggam Dunia
Oleh Wiwik Hartati
melompati ruang waktu jauh tinggi
teknologi abad berlari
menerobos cakrawala menusuk segala lini
sekarang jemari kanak belia hingga kaum manula
semua menggenggam dunia
saudaraku yang bijak berperi
Allah meridai kecanggihan teknologi
tercipta untuk kemaslahatan, itu pasti
namun iblis bengis telah bersumpah
“akan kujerat manusia hingga akhir zaman”
saudaraku, kau pun tahu
tak mau setan ketinggalan zaman
secanggih teknologi era digital ini, selembut udara
dia mengendus bilik sisi kehidupan manusia
bersarang di ponsel membakar nafsu gila
setan-setan gentayangan menghimpun teman
ada yang liar mengumbar syahwat
ada yang menyebar kebencian, fitnah, dan hoaks
membalik pandang mata manusia
yang buruk ditampakan lebih cantik, indah menarik
saudarku yang arif memegang aksara alif, tepis godaan iblis
stop hoaks, larung semua ujaran kebencian
junjung tinggi hak asasi, kedepankan toleransi
bijak bermedsos arif berbagi informasi
berliterasi dengan nurani, bukan dengki caci maki (*)
Temanggung, November 2025