HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Kita Saat Ini Hidup di Dunia atau di Bumi-Nya Allah

January 9, 2026 14:52
IMG-20260109-WA0068

Oleh : Tb Mhd Arief Hendrawan | Penulis

​I. Jejak Kaki di Tanah Pinjaman

​Di pagi yang masih basah oleh sisa doa malam,
kita melangkah dengan dada membusung seolah menggenggam zaman.
Membangun menara-menara beton yang mencoba mencakar langit,
tanpa sadar, fondasinya tertancap di atas tanah yang bukan milik kita sendiri.
Kita menyebutnya “dunia”, tempat segala ambisi menjadi raja,
tempat angka-angka di layar kaca menentukan harga sebuah nyawa. [1]

​Namun, ketika senja mulai melipat cahaya secara perlahan,
angin berbisik pada pori-pori kulit yang mulai menua:
“Apakah kau sedang berjalan di atas duniamu yang fana,
ataukah kau sedang bersujud di atas hamparan Bumi-Nya?”

​II. Tipu Daya Istilah

​Dunia adalah panggung yang kita hias dengan lampu warna-warni,
penuh dengan tirai kepalsuan dan kostum-kostum kehormatan diri.
Di sini, kita merasa memiliki waktu, memiliki harta, memiliki kuasa,
padahal kita hanyalah pengembara yang singgah di bawah pohon sesaat saja. [2]

​Sedangkan Bumi Allah adalah hamparan keajaiban yang tak terbatas,
tempat setiap helai daun bertasbih tanpa perlu merasa cemas.
Di Bumi Allah, tak ada yang benar-benar menjadi “milikku” atau “milikmu”,
sebab segalanya adalah titipan yang akan diminta kembali satu per satu. [3]

​III. Antara Genggaman dan Sujud

​Seringkali kita terlalu sibuk memoles “dunia” di dalam kepala kita,
hingga lupa bahwa kaki ini masih berpijak pada bumi yang Ia jaga.
Kita takut kehilangan jabatan, takut kekurangan bekal di hari esok,
padahal burung-burung terbang tanpa membawa tas, namun tetap kenyang mematok. [4]

​Hidup di “dunia” membuat kita sering merasa sendirian dan lelah,
namun hidup di “Bumi-Nya Allah” membuat setiap napas terasa berkah.
Sebab di Bumi-Nya, tak ada satu pun peristiwa yang luput dari tatapan-Nya,
bahkan jatuhnya sebutir benih di kegelapan malam, ada dalam garis takdir-Nya.

​IV. Pulang Sebelum Kembali

​Maka, mari kita tanya sekali lagi pada detak jantung yang kian melambat:
Sudahkah kita menanggalkan keangkuhan “dunia” saat melintasi darat?
Atau kita masih merasa berkuasa atas tanah yang kita tempati,
padahal esok lusa, tanah inilah yang akan memeluk tubuh kita dalam sepi?

​Mari belajar hidup di Bumi-Nya Allah dengan hati yang rendah,
menjadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap lelah sebagai lillah.
Sebab “dunia” akan musnah menjadi debu yang terbang tertiup angin,
namun Bumi Allah adalah saksi bagi siapa saja yang beriman dan bertauhid yakin. [5]

—–0000—–
​Catatan Kaki :

​[1] Konsep Kepemilikan Hakiki: Dalam perspektif Islam, kepemilikan manusia terhadap harta dan bumi bersifat metaforis (titipan). Pemilik mutlak adalah Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.” (QS. Al-Ma’idah: 120).

​[2] Perumpamaan Dunia: Merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sejenak seperti seorang pengembara yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya. Hal ini menekankan sifat fana dari kehidupan duniawi.

​[3] Zuhud dan Orientasi Hati: Perbedaan hidup di “dunia” dan di “Bumi Allah” adalah soal orientasi. Hidup di “dunia” berarti hati terikat pada materi, sedangkan hidup di “Bumi Allah” berarti memandang segala materi sebagai sarana untuk menuju Allah.

​[4] Tawakal: Mengambil ibrah dari hadis tentang burung yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. Ini adalah pengingat bahwa jaminan rezeki datang dari Allah selaku pemilik bumi.

​[5] Pertanggungjawaban Akhir: Bumi akan memberikan kesaksian atas apa yang dilakukan manusia di atasnya. Menyadari bahwa kita hidup di “Bumi-Nya Allah” akan melahirkan sifat ihsan (merasa selalu diawasi oleh Tuhan).