Era Nurza | Penulis
Ayah
kau berjalan tanpa suara
namun setiap langkahmu mengguncang bumi kecil di dadaku
Kau bukan sekadar lelaki
kau adalah langit yang menampung segala badai
agar hujan tak jatuh di kepalaku
Pundakmu
pernah jadi pelabuhan dari segala letih
tempat masa kecilku berlabuh
sebelum angin dewasa meniup layar keberanianku
Aku baru tahu
bahwa diam bisa sekeras doa
dan senyum bisa setabah luka
Kau menambal waktu dengan keringat
membungkus cinta tanpa pita
hanya dengan genggaman yang tak pernah lepas
meski jarak kini menjadikan kita dua bayang
yang berpapasan di senja dan doa.
Ayah
kau mungkin tak pandai berkata cinta
tapi caramu menyalakan lampu di teras setiap malam
adalah puisi paling lembut
yang pernah kutemukan dalam hidup
Kini aku berjalan di dunia yang dulu kau hamparkan
masih menapak jejakmu di tanah doa
dan setiap kali aku hampir tumbang
aku tahu
langit di pundakmu masih menyangga hidupku (*)
Padang, November 2025