Ilustrasi : AI/ Hatipena
Puisi : Suheri Simoen
HATIPENA.COM – Musafir yang bersekutu perompak itu laksana uang sisi yang sama
Telah diminumnya darah para petani, sudah jatuh tertimpa tangga
Sudah dihanguskan ladang gandum laksana api menyala di kayu bakar
Hingga semua Buah buah luruh dari tangkainya
Bunga-bunga berguguran dan trubus yang meranggas adalah kegembiraan
Musafir perompak setali tiga uang
Lalu ditiupnya kabar bila ladang akan ditanam nyanyian tarian pesta dan arak
Nelayan dipisah dari sampan
Penggembala dicerai dari domba
Peladang tak lagi menyiangi rumput dan gulma
Rezeki harian diisap hingga tandas
Seperti inang yang mati karena benalu
Musafir perompak mengaliri sungai dengan bangkai selalu.
Sukadana, 6225