Oleh : Cah Angon | Penulis
Di panggung dunia yang fana ini,
Kita berebut rupa, beradu gaya,
Mengikuti arus yang katanya “masa kini”,
Dengan pakaian sengaja koyak di mana-mana.
Dahulu, lubang di lutut adalah tanda peluh,
Cermin perjuangan dalam sempitnya saku,
Kini, sobekan itu dibeli dengan harga angkuh,
Menjadi identitas di tengah ramai yang semu.
Wahai jiwa yang bersemayam dalam raga,
Pernahkah sejenak kita bertanya pada nurani?
Di hadapan-Nya, kita hanya seonggok hamba,
Yang diperintah menutup aurat diri dengan penuh budi.
Kita sibuk memamerkan kulit yang tersingkap,
Dibalut trend yang katanya seni dan kebebasan,
Padahal di balik benang yang terburai lelap,
Ada kehormatan yang perlahan mulai terabaikan.
Bukan selembar kain yang membuat kita mulia,
Namun ketaatan yang membalut seluruh jiwa,
Apa artinya tampil modern di mata manusia,
Jika di mata Pencipta, kita kehilangan wibawa?
Dunia ini hanyalah panggung sandiwara,
Trend akan datang dan pergi tertelan zaman,
Namun pakaian takwa, itulah sebaik-baiknya,
Penutup celah dosa, pelindung di hari pembalasan.
Mari pulang pada hakikat yang hakiki,
Sempurnakan rupa dengan kerendahan hati,
Sebab kelak, bukan merk baju yang akan ditanya,
Tapi tentang rasa malu, dan sejauh mana kita menjaga-Nya. (*)