HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Hina di Mata Penduduk Bumi, Mulia dalam Pandangan Penguasa Langit

November 21, 2025 10:00
IMG_20251121_095227

Drs. Makmur, M.Ag | Penulis
Kepala Kantor Kemenag Bandar Lampung

HATIPENA.COM – Kadang manusia menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di depan mata. Kita cepat memvonis, tergesa menyimpulkan, dan mudah mencap seseorang baik atau buruk hanya berdasarkan penampilan atau kabar yang terdengar. Padahal, hakikat manusia tidak pernah bisa dijangkau oleh pandangan mata atau ucapan orang lain. Betapa banyak orang yang disangka hina, namun ternyata amat mulia di sisi Allah. Sebaliknya, tak sedikit yang tampak terhormat di hadapan manusia, tetapi tiada nilainya di sisi-Nya.

Kisah berikut mengajarkan betapa dalam makna keikhlasan, betapa berharganya amal yang tersembunyi, dan betapa berbahayanya prasangka serta penilaian lahiriah terhadap orang lain.

Pada suatu malam yang sunyi, Sultan Sulaiman al-Qanuni—penguasa besar Kekhalifahan Turki Utsmani—terbangun dari tidurnya dengan dada berdebar dan kening berpeluh. Ia baru saja mengalami mimpi yang mengguncang jiwanya. Dalam mimpinya, terdengar suara yang memanggil namanya lembut namun tegas, menyeru agar ia keluar menengok keadaan rakyatnya malam itu.

Tanpa menunggu fajar, Sultan segera memanggil beberapa pengawal dan ajudan. Ia ingin memastikan bahwa keadilan dan kesejahteraan rakyatnya nyata adanya, bukan sekadar laporan manis dari pejabat istana. Mereka menelusuri jalan-jalan besar, lalu masuk ke gang-gang sempit yang jarang dijamah siapapun, hingga langkah Sultan terhenti di sebuah lorong gelap.

Di sana, terbujur jasad seorang lelaki berpakaian lusuh. Wajahnya pucat, tubuhnya kaku, dan tak ada seorang pun yang mau mendekat. Beberapa warga hanya berkerumun dari jauh, berbisik-bisik dengan pandangan jijik dan sinis.

Sultan menatap mereka dan bertanya dengan nada heran bercampur marah,
“Kenapa kalian biarkan jenazah ini tanpa dimandikan, tanpa dikafani, tanpa dikuburkan? Bukankah ia juga umat Nabi Muhammad saw yang berhak mendapatkan penghormatan terakhir?”

Salah seorang menjawab ketus, “Wahai Tuanku, jangan kotori tanganmu dengan mayat pendosa ini. Ia dikenal sebagai pemabuk, pezina, dan ahli maksiat. Tidak pantas dikubur di pemakaman kaum muslimin.”

Wajah Sultan berubah tegang. Dengan suara berat ia berkata, “Demi Allah, kalian telah berbuat zalim! Kalian menilai seseorang hanya dari apa yang tampak di mata kalian. Aku sendiri yang akan mengurus jenazah ini.”

Dengan hati bergetar, Sultan berkata, “Tunjukkan di mana rumahnya.” Mereka pun menunjukkan arah. Dengan penuh wibawa namun hati yang luluh, Sultan sendiri memanggul jasad itu menuju rumahnya.

Sesampainya di sana, ia menyaksikan seorang perempuan duduk menangis di samping jenazah itu. Ia adalah istrinya. Dengan suara lembut Sultan bertanya,
“Wahai wanita, mengapa engkau menangisi seorang pendosa? Bukankah hidupnya dihabiskan dalam kemaksiatan?”

Perempuan itu menatap Sultan dengan mata sembab, lalu berkata lirih,
“Tuanku, engkau keliru. Ia bukan pendosa seperti yang orang sangka. Ia suamiku, lelaki saleh yang setiap malam keluar rumah bukan untuk bermaksiat, melainkan untuk mencegah maksiat.”

Sultan terdiam. Sang istri melanjutkan dengan tangis yang tertahan,
“Setiap malam ia membeli minuman keras dari para penjual, bukan untuk diminum, tapi untuk ditumpahkan ke saluran air agar anak-anak muda kota ini tidak tergoda untuk meminumnya. Setelah itu, ia pergi ke tempat perempuan-perempuan nakal. Di sana, ia memberikan uang agar mereka pulang dan tidak berbuat dosa malam itu. Ia sering berkata kepadaku, ‘Alhamdulillah, malam ini aku telah menutup pintu dosa bagi sebagian orang.’”

Perempuan itu menunduk, lalu berkata dengan lirih, “Saya sering menasihatinya, ‘Wahai suamiku, berhentilah melakukan itu. Manusia menilai hanya dari yang tampak. Mereka akan salah paham kepadamu.’ Tapi ia selalu menjawab, ‘Tidak apa-apa. Suatu hari nanti, yang akan mengurus jenazahku adalah Sultan sendiri, bersama para ulama dan kaum muslimin di kota ini.’”

Seketika Sultan Sulaiman terdiam kaku. Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. Dengan suara bergetar ia berkata, “Benar apa yang dikatakannya. Akulah Sultan Sulaiman al-Qanuni, penguasa Turki Utsmani. Dan aku sendiri yang akan mengurus jenazah suamimu.”

Keesokan harinya, kota Istanbul gempar. Jenazah yang semula dihina dan diasingkan kini dimuliakan. Prosesi pemakaman dihadiri para ulama, pejabat, dan lautan manusia. Sultan sendiri memimpin salat jenazah dengan tangisan yang mengguncang hati.

Rakyat yang menyaksikan itu terdiam dan menangis. Mereka menyadari bahwa tidak semua yang tampak hina di mata manusia benar-benar hina di sisi Allah. Ada amal yang tersembunyi, ada niat yang hanya Allah yang tahu, dan ada kemuliaan yang tak akan pernah tampak di permukaan bumi, tetapi bersinar di langit.

Kisah ini memberikan pelajaran berharga, terutama di zaman sekarang—zaman di mana berita bohong lebih cepat menyebar daripada kebenaran. Sebuah kebohongan yang terus diulang bisa dianggap benar, sementara kebenaran yang tak diviralkan seolah tak berarti. Manusia semakin mudah menilai, ringan mencela, dan berani menghakimi tanpa tahu hakikatnya.

Kita sering lupa, bahwa di balik setiap perbuatan ada niat yang hanya Allah yang mengetahuinya. Betapa banyak yang tampak hina, namun hatinya bersih. Dan betapa banyak yang tampak suci, namun hatinya kotor oleh kesombongan dan riya.

Allah mengingatkan: “Janganlah kamu menganggap dirimu suci; Dialah yang lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm [53]: 32) Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Prasangka buruk adalah pangkal dari kebencian, fitnah, dan kehancuran hubungan antarsesama. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Rasulullah saw bersabda pula: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dustanya perkataan. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, jangan memata-matai, jangan saling iri, jangan saling membenci, dan jangan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan beliau menambahkan: “Jauhilah hasad (iri hati), karena hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Maka jelaslah, bahwa orang yang hidupnya dipenuhi prasangka, ghibah, dan fitnah tidak akan pernah tenang. Ia terus mencari kesalahan orang lain, menuduh tanpa bukti, hingga kehilangan keberkahan hidup dan menghapus pahala amalnya sendiri.

Kisah ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada penampilan, jabatan, atau penilaian manusia, melainkan pada ketulusan niat dan amal yang tersembunyi antara hamba dan Tuhannya. Jangan terburu-buru menghakimi, sebab bisa jadi yang kita remehkan justru lebih dicintai Allah.

Hiduplah dengan hati yang bersih—tanpa iri, tanpa dengki, tanpa prasangka. Karena hati yang bersih adalah tempat turunnya rahmat Allah. Dan barang siapa menjaga lisannya dari menilai dan mencela, Allah akan menjaga kehormatannya di dunia dan meninggikannya di akhirat.

Sebagaimana sabda Rasulullah : “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim) Sebab boleh jadi—yang tampak hina di mata penduduk bumi, justru sangat mulia di pandangan Penguasa langit. (*)

Wallahu’alam