HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600 ------ HATIPENA.COM adalah portal sastra dan media untuk pengembangan literasi. Silakan kirim karya Anda ke Redaksi melalui pesan whatsapp ke 0812 1712 6600

Kekuasaan Bukan Kehormatan, Melainkan Amanah

November 28, 2025 06:13
IMG-20251127-WA0106

Oleh Drs. Makmur, M.Ag | Penulis
Kepala Kantor Kemenag Bandar Lampung

HATIPENA.COM – Terkadang, pelajaran terbesar tentang kepemimpinan tidak lahir dari pidato megah atau panggung kekuasaan. Ia justru muncul dari kejadian-kejadian sederhana yang sering terlewatkan pandangan manusia. Dari langkah-langkah sunyi yang jauh dari sorotan, namun menyimpan cahaya keteladanan yang sanggup menerangi zaman. Sebab kemuliaan seorang pemimpin tidak pernah diukur dari seberapa tinggi kursi kekuasaannya, tetapi dari seberapa besar rasa takutnya kepada Allah dalam menjaga amanah yang dipikulnya. Dari sanalah kisah ini memberi kita pelajaran.

Pada siang yang begitu menyengat, ketika matahari seakan menumpahkan api ke bumi dan hampir semua orang memilih bersembunyi dalam rumah masing-masing, tampak seorang lelaki berjalan tergesa di jalanan yang lengang. Wajahnya tertutup kain, seolah ia tak ingin diketahui siapa pun, namun gerakannya menunjukkan bahwa ia sedang mengejar sesuatu yang penting dan tidak boleh hilang.

Dari balik jendela rumahnya, Utsman bin Affan memandang sosok itu. Timbul keinginan dalam hatinya untuk menghentikannya dan menawarkan bantuan. Tidak lama kemudian, lelaki itu muncul kembali dengan tali kekang beberapa ekor sapi yang ditariknya dengan penuh usaha. Betapa terkejutnya Utsman ketika ia menyadari bahwa laki-laki itu bukan orang biasa. Dialah Amirul Mukminin Umar bin Khattab — pemimpin besar umat Islam yang keadilan dan keberaniannya mengguncang dunia.

Dengan cepat Utsman keluar menyambutnya. Ia bertanya penuh hormat, “Wahai Umar, apa yang engkau lakukan di tengah terik panas begini?”
Umar menjawab sambil terus melangkah, “Sapi-sapi ini adalah milik anak yatim. Mereka terlepas dari kandang dan berlarian ke jalan. Aku harus mencarinya agar tidak hilang atau membahayakan orang lain.”

Heran bercampur kagum, Utsman berkata, “Bukankah engkau bisa menyuruh orang lain? Mengapa engkau sendiri turun tangan?”

Umar pun berhenti, menatap sahabatnya itu dengan senyum yang sarat keteguhan iman, dan berkata, “Siapa yang mau memikul dosaku kelak di hari perhitungan? Siapa yang berani menanggung urusan ini di hadapan Allah? Kekuasaan bukan untuk dimuliakan… tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan.”

Kalimat itu menampar nurani siapa pun yang mendengarnya. Umar tidak menunggu kamera untuk menyorot pengabdiannya. Ia tidak mencari tepuk tangan rakyat. Ia bekerja dalam diam, karena yang ia cari hanyalah ridha Tuhan. Allah berfirman: “Dan katakanlah: beramallah kalian! Maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu…” (QS. At-Taubah: 105)

Namun di zaman ini, realitas sering kali berkebalikan. Banyak pemimpin turun ke lapangan hanya ketika kamera menyala. Peduli rakyat ketika publik menonton. Datang ke lokasi bencana, namun lebih sibuk mencari sudut pencahayaan terbaik untuk diberitakan. Membagi sembako, namun hanya demi menambah pengikut di media sosial.

Ada yang pura-pura merakyat, namun hanya sampai masa kampanye. Ada yang dekat dengan rakyat, tetapi hanya saat butuh suara. Maka, pertanyaan pun muncul dalam hati: Masih adakah sosok seperti Umar di era pencitraan ini? Pemimpin yang menggiring “sapi-sapi amanah” tanpa sorotan kamera, tanpa publikasi, tanpa panggung popularitas?

Rasulullah SAW telah mengingatkan: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Pemimpin yang diberi jabatan tetapi menelantarkan rakyat, maka ia telah mengkhianati amanah Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Tiada seorang pemimpin yang menipu rakyatnya lalu ia wafat dalam keadaan demikian, kecuali Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari & Muslim)

Namun, pemimpin yang adil dan tulus melayani rakyatnya akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat: “Pemimpin yang adil termasuk tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Umar mengajarkan: Kekuasaan bukanlah simbol kehormatan. Justru kehormatan sejati hanya akan datang bila amanah itu terpikul dengan baik. Ia tidak pernah membanggakan prestasi melalui pidato-pidato penuh pujian terhadap dirinya sendiri. Sebab ia tahu ancaman Allah bagi mereka yang berkata tidak sesuai dengan perbuatannya: “Sangat dibenci Allah orang yang mengatakan apa yang tidak ia kerjakan.” (QS. As-Shaff: 3)

Maka jadilah pemimpin — dalam kapasitas apa pun — yang benar-benar hadir untuk rakyatnya. Bukan hanya hadir dalam poster dan layar televisi. Jadilah pemimpin yang tangannya bekerja, bukan hanya lisannya berbicara. Jadilah pemimpin yang mencari doa rakyat, bukan sekadar sorotan kamera.

Semoga kesunyian langkah Umar di bawah terik matahari itu kembali menggerakkan hati para pemimpin masa kini. Semoga tumbuh pemimpin yang mengukur dirinya bukan dengan jabatan dan gelar, tetapi dengan pelayanan dan kepeduliannya kepada manusia.

Dan semoga kita semua — sebab setiap kita adalah pemimpin — mampu menjaga amanah di pundak kita, sekecil apa pun itu. Karena pada akhirnya… Bukan jabatan yang meninggikan martabat kita, tetapi amanah yang kita tegakkan. Bukan kedudukan yang membuat kita mulia, tetapi ketulusan yang kita persembahkan. (*)

Wallahu ‘alam