Drs. Makmur, M.Ag | Penulis
Kepala Kemenag Kota Bandar Lampung
HATIPENA.COM – Setiap pemimpin adalah amanah. Kekuasaan bukan kehormatan yang layak dibanggakan, tetapi ujian berat yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Rasulullah saw pernah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, seorang pemimpin sejati bukanlah yang paling kuat suaranya, tetapi yang paling peka mendengar jeritan rakyatnya, dan paling cepat memperbaiki ketika ada kesalahan.
Suatu siang hari yang terik di Madinah, Khalifah Umar bin Khattab duduk di majelis bersama para sahabatnya. Majelis itu seperti biasa diwarnai ketenangan dan wibawa, tempat para sahabat berdiskusi dan menyampaikan urusan umat. Namun tiba-tiba ketenangan itu terusik oleh datangnya seorang pemuda berpakaian lusuh, wajahnya muram, langkahnya tergesa. Tanpa basa-basi, ia berdiri di hadapan Umar dan berkata dengan nada tinggi, “Engkaulah yang bernama Umar, dan dijuluki Amirul Mukminin?”
Umar menjawab dengan tenang, “Untuk yang pertama benar, aku Umar. Tapi untuk yang kedua, itu masih harapan.” Namun pemuda itu tak berhenti di situ. Dengan suara keras dan nada marah ia berteriak, “Terkutuklah engkau, wahai Umar!”
Ucapan itu membuat semua orang terkejut. Suasana majelis mendadak hening. Para sahabat yang duduk di sekitar Umar spontan berdiri, hendak menghukum pemuda itu karena berani mengutuk seorang khalifah. Tapi Umar menahan mereka dengan isyarat tangan. Wajahnya tetap tenang. Tidak ada kemarahan, tidak ada gengsi seorang penguasa yang merasa direndahkan. Ia hanya menatap pemuda itu dengan penuh keingintahuan.
Ketika pemuda itu pergi, Umar bangkit dan menyusulnya keluar. “Wahai pemuda,” kata Umar lembut, “aku tidak mengenalmu, tapi engkau telah mengutukku. Pasti engkau memiliki alasan. Katakanlah agar aku tahu dosaku.” Pemuda itu menoleh dengan wajah penuh amarah. “Engkau khalifah yang zalim,” katanya tegas. Umar bertanya, “Mengapa engkau berkata begitu?”
Pemuda itu menjawab dengan suara berat, “Karena engkau membiarkan pejabat-pejabatmu di Mesir hidup bermewah-mewah. Harta mereka berlimpah, jauh melebihi gaji yang mereka terima. Sementara kami, rakyat kecil, banyak yang miskin, kelaparan, dan kekurangan. Bukankah engkau bertanggung jawab atas keadilan bagi seluruh umat Islam?”
Mendengar itu, Umar terdiam. Matanya perlahan basah. Tidak sedikit pun kemarahan muncul dari wajahnya. Justru ia menunduk, meneteskan air mata, dan berkata lirih, “Segala puji bagi Allah yang masih menghadiahkanku rakyat yang berani berkata benar di hadapan penguasanya.”
Keesokan harinya, Umar tidak tinggal diam. Ia segera mengutus orang ke Mesir untuk memeriksa kebenaran ucapan pemuda itu. Tak lama kemudian, laporan datang. Dan benar saja, sebagian pejabat hidup berlebihan, menumpuk harta di luar kewajaran. Umar tidak menunda. Ia memanggil mereka, memeriksa kekayaan mereka satu per satu, dan memerintahkan agar kelebihan harta dikembalikan ke Baitul Mal. Mereka yang terbukti curang dijatuhi hukuman.
Setelah semua urusan selesai, Umar menulis surat kepada pemuda yang pernah menghardiknya. “Wahai anak muda,” tulisnya, “engkau telah menyampaikan kebenaran yang pahit, dan aku bersyukur karenanya. Sesungguhnya tidak ada kebaikan bagi pemimpin yang tidak mau mendengar kritik rakyatnya.”
Kisah ini mungkin sering kita dengar, tapi hikmahnya jarang direnungkan dengan sungguh-sungguh. Dalam kisah sederhana ini tersimpan pelajaran besar tentang kepemimpinan yang berjiwa Islam. Umar tidak hanya dikenal sebagai pemimpin tegas, tetapi juga pemimpin yang hatinya lapang dan telinganya terbuka untuk mendengar kebenaran, sekalipun datang dari seorang pemuda miskin.
Umar mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ia tidak menilai teguran dari siapa yang berkata, tapi dari kebenaran yang disampaikan. Rasulullah saw bersabda, “Agama adalah nasihat.” Ketika para sahabat bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum Muslimin serta rakyatnya.” (HR. Muslim).
Mendengar adalah awal dari keadilan. Sebab bagaimana mungkin seorang pemimpin dapat berlaku adil bila ia tidak mau mendengarkan penderitaan rakyatnya? Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal.” (QS. Az-Zumar: 18).
Namun mendengar saja tidak cukup. Umar juga mencontohkan bahwa seorang pemimpin sejati harus cepat memperbaiki. Ia tidak menunda, tidak mencari alasan, dan tidak bersembunyi di balik jabatan. Ia tahu bahwa diam terhadap kezaliman berarti turut serta di dalamnya. Allah memperingatkan dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113).
Rasulullah saw pun menegaskan dalam hadisnya, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu binasa karena apabila orang terpandang di antara mereka mencuri, mereka biarkan; dan apabila orang lemah di antara mereka mencuri, mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Keadilan tidak mengenal pangkat atau kekerabatan.
Bagi Umar, kemuliaan kekuasaan hanya ada dalam keadilan. Ia tak gentar menindak bawahannya sendiri, karena ia yakin bahwa di mata Allah, jabatan bukan pelindung, tapi amanah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa’: 58).
Dan Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil akan berada di atas mimbar dari cahaya di sisi Allah, yaitu mereka yang adil dalam hukum, terhadap keluarga, dan terhadap apa yang mereka pimpin.” (HR. Muslim).
Namun Umar juga berhati-hati dalam bertindak. Ia tahu tidak semua pejabat bersalah. Ada yang jujur, amanah, dan bekerja keras untuk umat. Karena itu, Umar menegakkan keadilan secara seimbang: memberikan penghargaan kepada yang berprestasi dan hukuman kepada yang melanggar. Itulah hakikat keadilan sejati — tidak condong ke satu sisi, tapi tegak di atas kebenaran.
Kisah Umar dan pemuda Mesir ini adalah cermin abadi bagi setiap pemimpin di setiap zaman. Kekuasaan sejati bukanlah tentang banyaknya pengikut, tapi tentang keberanian menegakkan kebenaran walau pahit. Umar menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak anti kritik, tidak takut salah, dan tidak menunda kebenaran. Ia menangis ketika dinasihati, bukan karena tersinggung, tapi karena sadar betapa berat amanah yang dipikulnya.
Pada akhirnya, yang diingat dari seorang pemimpin bukanlah berapa lama ia memimpin, tapi seberapa adil ia telah memimpin. Karena di hadapan Allah, tahta dan jabatan akan sirna, tapi keadilan akan kekal sebagai cahaya yang menerangi akhirat. (*)
Wallahu’alam