Bagian 1
Penulis: Komunitas Kesultanan
HATIPENA.COM – Kesultanan Palembang darussalam peninggalan Sang Panglima perang Pangeran Kramajaya yang di Desa Buluh cawang, Ogan komering ilir
Sejarah Ringkas Pangeran Bupati Panembahan Hamim, sangatlah perlu untuk ditampilkan mengingat tidak banyak muncul tokoh-tokoph dari kota Palembang, Perjalanan Sejarah kota ini cukuplah panjang, setidaknya tercatat ada dua buah kerajaan besar yaitu Kedatuan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam (KPD).
Pangeran Bupati Panembahan Hamim adalah seorang perwira perang yang handal sehingga Sultan tidak ragu-ragu memberikan kepercayaan kepadanya hal ini terbukti pada saat pergantian pimpinan beliau tetap dipercaya untuk memimpin Benteng Martopuro yang merupakan Benteng komando. Dilahirkan di Palembang pada hari Sabtu jam 08.00 WIB, tanggal 25 Januari 1779 M /17 Syawal 1192 H. Wafat pada tahu 1879 dalam usia 100 tahun. dikuburkan di Pemakaman Tanah Tinggi Talang Semut 29 Ilir ( Sekarang dikenal dengan Jln Joko). Semasa hidupnya telah terjadi 5kali pergantian sultan di KPD, dan wafat pada masa Keresidenan Palembang. Adapun Sultan-sultan yang dimaksud adalah
Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803),
Raden Muhammad Hasan atau Sultan Mahmud Badaruddin II (1803-1821), Raden Muhammad Husin Dhiauddin Pangeran Adipati atau Sultan Ahmad Najamuddin II ( (1813-1817), Sultan Ahmad Najamuddin III Pangeran Ratu (1819-1821), Sultan Ahmad Najamuddin IV Prabu Anom (1821-1823), Pangeran Kramo Jayo (1823-1825), dan masa Keresidenan Palembang (15 0ktober 1825).
Menulusuri Sejarah Kota Palembang, adalah sebuah perjalanan panjang. Setidaknya kita akan terlibat dalam pembahasan dua kerajaan yang pernah ada di wilayah nusantara ini yaitu Kedatuan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.
Terkhusus perjalanan sejarah Pangeran Bupati Panembahan Hamim yang lahir pada masa Sultan Muhammad Bahauddin hingga wafat pada saat Kesultanan Palembang Darussalam dihapuskan oleh Belanda.
Sebagai Kerajaan Maritim, Kesultanan Palembang Darussalam perlu memiliki sistem pertahanan yang khusus. Sistem pertahanan yang dibangun hendaknya dengan pertimbangan yang seksama. Untuk keperluan itu maka semua jalur lalu lintas sungai harus dikuasai, dan disepanjang sungai Musi harus dibuat benteng-benteng pertahanan.
Benteng yang dibangun sepanjang sungai Musi itu dimulai dari Sungsang. Dilanjutkan ke Muara Rawas disebelah utara. Diteruskan ke sebelah Selatan sampai dihulu sungai Ogan dan sungai Komering. Adapun Benteng-benteng tersebut terletak di Muaro Sungsang, Selat Borang,Pulau Anyar, Muaro Plaju, Pulau Kemaro, Martapuro,
Kuto Besak, Kuto lamo, Dusun Bailangu, Ujung Tanjung, dan Dusun Muncak Kabau.
Setelah terjadinya Perang Menteng pada tahun 1819 yang berakhir dengan kemenangan di pihak Kesultanan Palembang, membuat Belanda mempunyai perhitungan tersendiri atas Kesultanan Palembang. Hal yang sama dilakukan pula oleh Sultan, sehingga beliau melakukan beberapa kebijakan dalam berbagai bidang. Pada tahun 1819-1821 banyak benteng lama yang diperkuat dan benteng baru didirikan (Safwan,2004:74).
Disamping itu perlu mempersiapkan faktor-faktor pertahanan lainnya. Perahu-perahu yang dipersenjatai juga dipersiapkan oleh Sultan. Tentara (lasykar) terus dipersiapkan, Lasykar umumnya diambil dari orang-orang Miji dan Orang Senan. Sesudah persiapan mencukupi, maka Sultan menyelesaikan masalah lain, antara lain dengan menunjuk orang-orang kepercayaannya untuk menjadi panglima perang di medan perang antara lain Pangeran Kramadiraja, Pangeran Wirasentika, Pangeran Kramajaya (Menantu Susuhunan Mahmud Badaruddin II), Pangeran Suradilaga,
Pangeran Kramadilaga, dan Pangeran Bupati Panembahan Hamim beliau adalah saudara kandung dari Sultan Mahmud Badaruddin II Pahlawan Nasional dari Palembang (Sumatera Selatan).
Menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak, diantaranya dengan Pangerang Ratu dari Jambi serta beberapa pimpinan etnis yang ada di Palembang Bugis, Arab, dan Cina. (Bersambung)